Selasa, 04 Juni 2019

Ucapan Idul Fitri dalam Bahasa Jawa


Dalam menyambut datangnya Idul Fitri, biasanya kita sering berkirim pesan ucapan selamat idul fitri baik via sms ataupun aplikasi chatting seperti Whats App (WA). Berikut beberapa contoh ucapan selamat iidu fitri dengan menggunakan Bahasa Jawa, silahkan boleh dipilih lalu di copy paste dikirimkan ke keluarga atau kerabat saudara semua, monggo :

Selasa, 05 Maret 2019

Penamaan Orang Tegal Jaman Dulu



Memberi nama anak adalah salah satu kewajiban orang tua. Dalam memberikan nama kepada anaknya ini, orang tua biasanya mempertimbangkan banyak faktor, apalagi dalam agama nama adalah doa, sehingga pemberian nama kepada anak ini perlu dipikirkan matang-matang.
Dalam hal pemberian nama ini, masyarakat Tegal jaman dulu punya tradisi khusus, yaitu memberi nama anaknya disesuaikan dengan hari lahirnya anak tersebut.
Berikut adalah cara orang tegal jaman dulu memberikan nama kepada anaknya yang didasarkan pada hari lahir :
1.      Lahir hari Ahad/Minggu  : diawali dengan huruf Ka,
contoh: Karsid, Karsem, Kasman, Kartono, Kapsiyah dll
2.      Lahir Hari Senin               : diawali huruf Ra,
contoh: Rasbun, Raswad, Rasuti, Rakijan, Rasmali dll
3.      Lahir Hari Selasa              : diawali huruf Ca,
contoh: Carmun, Caridah, Casem, Carmad, Casmadi dll
4.      Lahir Hari Rabu               : diawali huruf Ta,
contoh: Taswad, Tanyem, Taridi, Tarno, Tareni dll
5.      Lahir Hari Kamis             : diawali huruf Sa,
contoh: Sartimah, Sayem, Sarjum, Saadah dll
6.      Lahir Hari Jum’at             : diawali huruf Da,
contoh: Darmad, Dasman, Darno, Danisah, Daslam, dll
7.      Lahir Hari Sabtu              : diawali huruf Wa,
contoh: Wasmad, Warsiti, Warjo, Wastap, Wasni dll

Cara-cara pemberian nama seperti diatas sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Tegal jaman sekarang. Nama-nama seperti diatas mulai dianggap jadul dan kuno, sehingga orang tua jaman sekarang lebih banyak memberikan nama anak-anaknya dengan bahasa asing dari arab, inggris, latin, dll. 

Sabtu, 03 November 2018

MANUSKRIP SEDOLOGI BANJARNEGARA

Begini kondisi manuskrip Sedologi

Manuskrip Sedoloji, begitu saya menamakan temuan naskah manuskrip yang saya peroleh dari kuncen (juru kunci) Makam Tumenggung Mangun Yudha Sedologi Banjarnegara. Bisa jadi mungkin kurang tepat, karena nyatanya setelah dialih tuliskan, secara garis besar, isi menuskrip ini bukan tentang Makam Sedologi. Berikut kurang lebih alih tulisnya


KACARIYOS TEDHAKIPUN SAKING GIRI GAJAH

Giri gajah putra ingkang sepuh Sunan Serapan ingkang jejuluk Prabu Jaka. Milanipun jejuluk Prabu Jaka awit anggenipun jumeneng wali maksih jaka, panggulu Pangeran Giri Wasiyat panengah Pangeran Giripit weragil Nyai Sekati sangking Kanjeng Pangeran Jaka utawi sangking Prabu Jaka utawi sangking Pangeran Giri Kedhaton, kasigeg boten kacariyos.

Mendhet sangking cariyosipun Pangeran Giri Wasiyat ingkang rayi Pengeran Giripit Weragil, estri nami Nyai Sekati ingkang wonten kali glagah. Kacariyos putra ing Giri Gajah ingkang 3 wau.
1.      Sunan Giri Wasiyat;
2.      Pangeran Gripit;
3.      Weragil, Nyai Sekati;

Selasa, 07 Februari 2017

Pentingnya Sanad dalam Belajar Agama

Belajar Islam Wajib Bersanad
Sebelum berbicara lebih jauh tentang sanad, ada satu analogi begini. Suatu saat kamu akan pergi ke Jakarta. Tapi karena kamu belum pernah kesana, jadi kamu butuh tanya ke orang lain. Saat itu dihadapanmu ada 2 orang, 1 orang berasal dari Jakarta, satunya lagi dari Jogja. Dihadapkan pada situasi seperti itu, kamu akan lebih percaya arahan dari siapa untuk bisa sampai ke Jakarta? Orang sadar dan waras tentu akan lebih percaya dan mengikuti arahan dari orang Jakarta tersebut. Atau malah kamu akan mencari jalan sendiri menuju ke Jakarta dengan resiko tersesat?
Kurang lebih seperti itu gambaran tentang pentingnya sanad keilmuan dalam mempelajari agama islam. Orang ingin tahu islam, ya cari tahu ke orang yang menguasai ilmu agama islam. Orang mau mempelajari islam tidak bisa semaunya atau asal dasar penafsiran sendiri. Imam Syafi’i pernah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”. Bahkan nabi sendiri sudah mewanti-wanti akan pentingnya sanad. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad).

Jumat, 09 Desember 2016

SESORAH NGURI-NGURI BUDAYA

Sesorah dalam bahasa Indonesia artinya pidato. Berikut ini kami sajikan contoh sesorah yang bertemakan "Nguri-Nguri Budaya Jawa". Nguri-nguri budaya Jawa artinya melestarikan budaya Jawa. Hal ini merupakan suatu hal yang penting di era globalisasi seperti sekarang ini.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Salam kasugengan lan karaharjan mugia tansah kaparingaken dhumateng kita sedaya. Amin.
Para Bapak, ibu serta para rawuh ingkang dahat kinurmatan
Sumangga langkung rumiyin kita tansah ngaturaken puja saha puji syukur dumateng Gusti Ingkang Maha Agung. Ingkang sampun kepareng maringi kabagjan,  kesehatan saha kasarasan saengga kita sedaya saged kempal manunggal wonten ing papan menika tanpa alangan setungga menapa.
Wonten ing pepanggihan menika keparenga kula badhe ngaturaken perkawis nguri-nguri kabudayan Jawa.
Wonten ing setunggal wekdal, dumadakan nate tuwuh pitakenan ing pamikiran kula: Jan-jane napa toh sing dikarepake saking ukara "ayo padha nguri-uri kabudayan Jawa"? Wujudipun kepriwe? Nalika aku seneng ningali wayang kulit, karawitan, nonton kethoprak, lan liya-iyane, napa niku sampun kalebet 'nguri-uri kabudayan Jawa'?