Kamis, 20 November 2014

MANDIRAJA PUNYA SUMUR JALATUNDA

Selama ini yang banyak orang tahu, sumur Jalatunda adanya hanya di Dataran Tinggi Dieng. Ternyata itu salah, karena di daerah Mandiraja, Banjarnegara ada juga sumur yang bernama sumur Jalatunda. Sumur Jalatunda berlokasi di Desa Jalatunda Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara. Konon, Sumur Jalatunda ini telah ada jauh bahkan sebelum Desa Jalatunda berdiri. 
Dahulu kala, datang seorang kerabat Presiden Indonesia pertama Ir Soukarno ke sumur tersebut. Beliau membawa sebuah kitab atau buku kuna yang katanya bernama kitab Jayabaya. Dalam kitab tersebut menunjukan bahwa lokasi tempat sumur tersebut berada bernama sumur Jalatunda yang sebenarnya atau yang asli. Bukan ditempat lain seperti di daerah Dieng atau tempat-tempat lain. Dari cerita tersebut, lokasi keberadaan sumur tersebut diberi nama Desa Jalatunda.
Menurut penuturan dari Bapak Miharja atau dikenal juga dengan nama Bapak Miran selaku juru kunci dan tetua desa, sumur Jalatunda tersebut dijaga oleh dua orang makhluk, yang pertama bernama Suwandi Geni Manglungkusuma, sementara yang kedua bernama si Abang. Si Abang ini berwujud Macan Putih.
Setiap tahunnya, tepatnya setiap hari senin lagi dibulan Sura atau yang dalam kalender Hijriah dinamakan bulan Muharram dilaksanakan semacam upacara tradisi. Upacara tradisi tersebut selalu dihadiri oleh banyak pengunjung dari berbagai kota di Indonesia, serta dari berbagai macam profesi dari mulai pengusaha, petani, pejabat, politisi, dan lain-lain. Para pengunjung tersebut banyak yang percaya bahwa sumur Jalatunda bisa dijadikan lantaran hajatnya bisa dikabulkan oleh Tuhan YME.

Rabu, 05 November 2014

JEJAK KI AGENG SELAMANIK

Menurut kisah, Ki Ageng Selamanik adalah seorang mantan komandan perang Pangeran Diponegoro yang sangat setia serta cinta kepada bumi, tanah air, dan bangsanya. Beliau tidak mau hidup dalam pelukan penjajah Belanda. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Kompeni, lalu Ki Ageng Selamanik meneruskan perjuangan Pangeran Diponegoro dengan menghimpun para pemuda untuk dididikagama dan beladiri.
Makam Ki Ageng Selamanik
Mendengar kegiatan Ki Ageng Selamanik tersebut, Kompeni merasa gerah. Maka dari itu, Kompeni beberapa kali mengirim utusannya untuk menangkap Ki Ageng Selamanik. Namun selalu saja dibarengi dengan kegagalan.
Merasa mengalami kesulitan, akhirnya Kompeni mengadakan sayembara, barang siapa yang dapat menangkap Ki Ageng Selamanik akan diberi hadiah uang. Ada yang mengajukan diri dan merasa sanggup, dia bernama Jugil Awar-Awar, kebetulan orang tersebut mengenal Ki Ageng Selamanik karena pernah bertapa bersamaan waktu dan tempatnya di puncak gunung Sumbing. Adapun bedanya, Ki Ageng Selamanik bertapa untuk keperluan positif, sementara Jugil Awar-Awar bertapa untuk keperluan negatif.

Minggu, 02 November 2014

ASAL-USUL DESA GUMELEM


Gerbang Menuju Girilangan Diatas Bukit
Terbentuknya Desa Gumelem Wetan dan Desa Gumelem Kulon adalah sebuah rentetan sejarah yang sangat panjang dari sebelum Sutawijaya menjadi Raja di Kerajaan Mataram hingga Kerajaan Mataram Islam mengalami kejayaan. Di masa Kerajaan Mataram, beberapa momentum penting yang terkait dengan berdirinya / terbentuknya Desa Gumelem dapat di kisahkan dalam Kisah Dwegan Klapa Ijo dan Perdikan Gumelem.

I.         KISAH DWEGAN KLAPA IJO
Asal muasal Gumelem berawal dari sebuah peristiwa yang dilakoni oleh dua orang kakak beradik yaitu Ki Ageng Pamanahan dan Ki Ageng Giring (Juru Mertani). Konon di Abad ke XIV, sewaktu Ki Ageng Giring sedang berladang, beliau mendengar suara gaib yang mengatakan  siapa yang meminum dwegan klapa ijo yang dipetiknya diladang dengan sekali habis, maka anak turunanya akan menjadi raja-raja di tanah Jawa. Namun, merasa dirinya belum merasa haus, kelapa muda yang baru dipetiknya itu diparas dulu dan disimpan di rumah di atas “ Para “ .
Selesai  melakukan aktivitas bertani, Ki Ageng Giring pulang ke rumah dan melihat Dwegan Klapa ijo nya sedang di minum Ki Ageng Pamanahan, melihat peristiwa itu, Ki Ageng Giring hanya mengatakan sesuatu kalimat yang mengandung maksud sudah menjadi keberuntungan Ki Ageng Pamanahan dan keturunan – keturunanya.
Apa yang menjadi keyakinan Ki Ageng Giring terhadap Air Kelapa Muda diatas ternyata terbukti. Tahun 1600-an anak dari Ki Ageng Pamanahan yang bernama Sutawijaya menjadi Raja Mataram. Dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alogo Sayidin Panoto Gomo. Dan salah satu istrinya bernama Nawangsasi (anak  Ki  Ageng Giring) hingga mempunyai anak yang bernama Jaka Umbaran

Selasa, 28 Oktober 2014

LEGENDA STANA KEMPOL


Ditengah perkebunan salak, terdapat sebuah bangunan. Bangunan itu terlihat tua meskipun sepertinya cukup terawat dengan baik. Latar menuju bangunan tersebut dibuat semacam jalan setapak yang terbuat dari batu-batu seadanya yang terdapat disekitar situ dan tertata rapi.
Stana Kempol, begitu warga sekitar biasa menyebutnya. Berlokasi di Dusun Dirun Desa Singamerta Kecamatan Sigaluh, konon Stana Kempol merupakan nama bangunan sebuah makam.  Makam ini diyakini bukan sembarang makam. Makam ini cuma ada satu-satunya disekitar situ, tidak ada makam yang lain seperti makam-makam pada umumnya.
Menurut salah seorang warga sekitar bernama bapak Martono, konon Stana Kempol merupakan makam seorang Ronggeng yang sangat cantik jelita dan menjadi idaman para pria. Sangking cantiknya, sang ronggeng menjadi rebutan para pria dari berbagai daerah.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Sunan Giri Wasiyat

Makam Sunan Giri Wasiyat tampak luar

Nama Sunan Giri Wasiyat memang terdengar asing ditelinga kita semua. Dibandingkan dengan nama-nama seperti Sunan Kalijaga, Sunan Gunungjati, ataupun Sunan-Sunan lain yang masuk dalam predikat Wali Sanga, nama Sunan Giri Wasiyat memang masih jarang yang tahu. Namun meskipun begitu, peran Sunan Giri Wasiyat dalam menyebarkan kawruh agama islam tidak bisa dibilang sepele.
Sunan Giri Wasiyat adalah putra kedua dari Sunan Giri. Kakaknya bernama Prabu Jaka, sementara adiknya bernama Sunan Gripit dan Nyai Sekati. Sunan Giri Wasiyat bersama kedua adiknya bertugas menyebarkan agama islam di wilayah Pulau Jawa bagian tengah. Dan salah satu yang menjadi tempatnya menyebarkan agama islam yaitu di wilayah yang sekarang bernama Banjarnegara.
Alkisah, pada suatu pengembaraannya, beliau sampailah di daerah Banjaranyar, Pekuncen. Disana beliau bertemu dengan Kyai Ageng Maliu, salah satu tokoh besar di daerah tersebut dan menikahkan putrinya dengan Kyai Ageng Maliu. Di daerah tersebut Sunan Giri Wasiyat mengajarkan kawruh agama islam.