Senin, 26 Januari 2015

Tim Pendaftaran Cagar Budaya


Kabupaten Banjarnegara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah mengeluarkan surat keputusan pembentukan tim pendaftaran cagar budaya. Pembentukan tim pendaftaran cagar budaya ini sesuai amanat UU No. 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya.
Tugas dari tim pendaftaran cagar budaya nantinya meliputi :
a.   Menerima kelengkapan persyaratan pendaftaran cagar budaya, meliputi identitas pendaftar dan dokumen-dokumen yang terkait dengan pendaftar;
b.        Menerima data objek yang didaftarkan sebagai cagar budaya;
c.        Menerima dan bertanggung jawab terhadap penitipan objek yang didaftarkan sebagai cagar budaya;
d.        Memeriksa kelayakan data objek;
e.        Mengolah data objek yang didaftarkan sebagai cagar budaya dengan melakukan deskripsi, dokumentasi dan verifikasi terhadap objek dan data objek;
f.        Menyiapkan berkas Pendaftaran Cagar Budaya untuk diajukan ke Tim Ahli Cagar Budaya dalam rangka kajian untuk memperoleh rekomendasi penetapan cagar budaya;
g.        Memperbaiki Berkas Pendaftaran Cagar Budaya apabila terdapat koreksi dari Tim Ahli Cagar Budaya;
h.  Berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara untuk memproses usulan penetapan cagar budaya berdasarkan hasil kajian dari Tim Ahli Cagar Budaya.

Jumat, 16 Januari 2015

BANJAR WATU LEMBU


Pada sebuah pendapa kecil yang letaknya di desa Banjarkulon, dusun Karang Gondang RT 02 RW 03, kecamatan Banjarmangu, terdapat beberapa batuan yang diduga merupakan peninggalan purbakala yang termasuk dalam benda cagar budaya. Berikut jenis-jenis batuan tersebut :
1. Arca Nandi
Arca nandi ada 2 buah, bentuknya mirip lembu, jadi warga menyebutnya sebagai arca watu lembu. Arca nandi ini terbuat dari batuan andesit. Nandi dalam agama hindu merupakan kendaraan (wahana) Dewa Siwa, berikut diskripsi kedua arca tersebut :

Kamis, 11 Desember 2014

UJUNGAN, TRADISI MEMINTA HUJAN

Ujungan adalah tradisi yang dilakukan dua orang yang dengan sengaja diadu untuk berusaha saling pukul-memukul dengan mempergunakan tongkat yang terbuat dari rotan. Tradisi ini dulu banyak dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Banjarnegara yang digelar dimusim kemarau yang berkepanjangan dengan tujuan untuk memohon turunnya hujan kepada Tuhan YME. Tongkat pemukul terbuat dari rotan yang diameternya sebesar ibu cari kaki dewasa dengan panjang sekitar 80 cm.
Sejarahnya, konon ujungan ini bermula dari suatu peristiwa cekcok mulut antara para among tani yang kadang-kadang sampai berujung pada bentrok fisik. Cekcok yang berujung pada bentrok fisik itu terjadi karena perebutan air pada musim kemarau panjang. Pada suatu ketika, para among yang bentrok memperebutkan air ini dibawa kepengadilan desa dan diadili oleh seorang demang. Oleh demang itu justru disuruh melakukan sabetan (ujungan) saja, harapannya dengan demikian Tuhan merasa belas kasihan dan segera menurunkan hujan.
Tradisi ini juga menggunakan iringan musik meski sederhana. Iringannya menggunakan alat musik seperti : kendang, kempul, saron, saron, serta kadang melibatkan sinden juga.
Dalam tradisi ini dibutuhkan seorang wasit sebagai penengah yang dibantu oleh 2 orang welandang. Welandang ini dibekali rotan pemukul (rancak) dan berputar-putar mencari penonton yang jago-jago untuk diadu. Orang atau penonton yang siap tanding nantinya mengambil rancak yang dibawa oleh welandang, dan oleh welandang nantinya dibimbing untuk memasuki arena. Namun penonton atau orang pilihan welandang ini belum tentu akan bertanding, karena sebelum bertanding, penonton akan menentukan seseorang pilihan welandang tersebut mampu dipertandingkan atau tidak. Kalau penonton menganggap mampu, maka pertandingan bisa dilangsungkan, sementara jika suara penonton menganggapnya tidak mampu, maka orang tersebut batal bertanding, dan digantikan dengan orang lain juga pilihan dari welandang.

Senin, 08 Desember 2014

PALEMBAHAN GEDONG DAN ASAL NAMA MANDIRAJA

Makam Mbah Gedong yang Ada Di Dalam Cungkup
Mandiraja merupakan salah satu nama kecamatan di Kabupaten Banjarnegara. Kecamatan ini berkembang menjadi salah satu wilayah paling ramai di Banjarnegara. Di Desa Mandiraja Kulon, Kecamatan Mandiraja terdapat suatu makam kuna yang warga sekitar sebut dengan nama Palembahan Gedong atau disebut juga makam gedong. Ditempat ini terdapat satu makam yang tertutup cungkup yang kata para warga sekitar merupakan makam sesepuh pendiri kecamatan Madiraja yaitu Mbah Gedong, untuk itulah tempat ini dinamakan Makam Gedong atau Palembahan Gedong.
Mbah Gedong punya nama asli R.Ng. Mertodiharjo. Konon, beliau masih keturunan dari Sultan Agung dari Mataram. Mbah Gedong merupakan putra dari Adipati Wirawisesa. Berkaitan dengan nama Mandiraja, Beliau dahulunya tinggal disebuah tempat yang dimana di sekitar situ terdapat sebuah pohon yang sangat besar, warga sekitar menyeburnya dengan nama pohon Mandirogung atau Mandiroagung. Dari pohon Mandirogung itulah muncul nama Mandiraja yang selanjutnya digunakan sebagai nama tempat di sekitar pohon tersebut dan sekarang menjadi nama kecamatan.

Sabtu, 29 November 2014

UPACARA BARITAN DIENG

Mbah Naryono sedang Membaca Doa
Baritan merupakan salah satu acara tahunan yang diadakan oleh masyarakat Dataran Tinggi Dieng, Khususnya Masyarakat Desa Dieng Kulon. Upacara Baritan ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali, yaitu bertepatan dengan hari jumat terakhir di bulan Sura atau kalau dalam agama islam bulan Muharam.
Dilihat dari arti kata, Baritan merupakan singkatan dari "mbubarake Peri lan Setan" (membubarkan peri dan setan). Sesuai dengan makna kepanjangannya, Baritan merupakan sebuah upacara / ritual yang ditujukan agar masyarakat desa Dieng Kulon terhindar dari Balak dan Bencana, sehingga kehidupan senantiasa aman, tentram dan damai.
Dalam Upacara Baritan, masyarakat desa mengorbankan satu kambing yang mana kambing yang boleh dikorbankan untuk  dipotong harus memiliki ciri khusus yaitu jenis kambing yang memiliki lingkaran corak warna tertentu pada bulu di badannya, atau masyarakat Dieng biasa menyebutnya Kambing Kendit.
Setelah kambing dipotong, selanjutnya dilaksanakan selamatan atau pembacaan doa bertempat disalah satu titik desa. Disana juga disediakan berbacam-macam sesaji atau uba rampe berupa makanan seperti nasi kuning, ayam ingkung, urab, dll yang siap diperebutkan warga setelah selesai pembacaan doa.