Senin, 18 Mei 2015

KYAI AGENG MALIU

Cungkup Makam Kyai Maliu
Di daerah Dusun Pekuncen Desa Banjarmangu Kecamatan Banjarmangu terdapat makam bersejarah yang konon menurut cerita masyarakat sekitar merupakan makam salah satu tokoh pendiri Banjarnegara. Tokoh yang dimaksud adalah Ki Ageng Maliu. Ki Ageng Maliu merupakan pendiri awal Banjarnegara sebelum menjadi Kabupaten Banjarnegara seperti sekarang ini.
Riwayat berdirinya Kabupaten Banjarnegara disebutkan bahwa seorang tokoh masyarakat yang bernama Kyai Maliu sangat tertarik akan keindahan alam di sekitar Kali Merawu selatan jembatan Clangkap. Keindahan tersebut antara lain karena tanahnya berundak, berbanjar sepanjang kali. Sejak saat itu, Kyai Maliu kemudian mendirikan pondok/rumah sebagai tempat tinggal yang baru. Dari hari ke hari kian ramai dengan para pendatang yang kemudian mendirikan rumah disekitar tempat tersebut sehingga membentuk suatu perkampungan. Kemudian perkampungan yang baru dinamai “BANJAR” sesuai dengan daerahnya yang berupa tanah yang berpetak-petak dan berbanjar-banjar. Atas dasar musyawarah penduduk desa baru tersebut Kyai Maliu diangkat menjadi Petinggi (Kepala desa), sehingga kemudian dikenal dengan nama “Kyai Ageng Maliu Pertinggi Banjar”. Nah, desa Banjar yang dipimpin Ki Ageng Maliu ini yang nantinya menjadi cikal bakal berdirinya Kabupaten Banjarnegara.

Kamis, 07 Mei 2015

MENGENAL DIENG LEWAT MUSEUM KAILASA

Museum Kailasa Dieng
Berbicara mengenai dataran tinggi Dieng, pasti tidak akan terlepas dari pembicaraan tentang hawa yang dingin, candi-candi hindu, serta keadaan alam yang indah. Namun Dieng tidak hanya itu, ada satu tidak boleh luput dibicarakan, yaitu Museum Kailasa.
Museum Kailasa terletak di kompleks Gedung penyimpanan Arca milik Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. Lokasi museum ini berada di seberangCandi Gatotkaca, Dieng, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Penamaan “Kailasa” diambil dari nama tempat tinggal Dewa Siwa, yaitu di Gunung Kailasa.
Museum ini mempunyai 2 buah gedung. Gedung pertama merupakan gedung lama yang hingga kini masih dipertahankan sebagai ruang transisi dan penyimpanan arca. Sementara untuk gedung kedua yang berbentuk setengah lingkaran letaknya berada dibelakang gedung lama.