Kamis, 11 Desember 2014

UJUNGAN, TRADISI MEMINTA HUJAN

Ujungan adalah tradisi yang dilakukan dua orang yang dengan sengaja diadu untuk berusaha saling pukul-memukul dengan mempergunakan tongkat yang terbuat dari rotan. Tradisi ini dulu banyak dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Banjarnegara yang digelar dimusim kemarau yang berkepanjangan dengan tujuan untuk memohon turunnya hujan kepada Tuhan YME. Tongkat pemukul terbuat dari rotan yang diameternya sebesar ibu cari kaki dewasa dengan panjang sekitar 80 cm.
Sejarahnya, konon ujungan ini bermula dari suatu peristiwa cekcok mulut antara para among tani yang kadang-kadang sampai berujung pada bentrok fisik. Cekcok yang berujung pada bentrok fisik itu terjadi karena perebutan air pada musim kemarau panjang. Pada suatu ketika, para among yang bentrok memperebutkan air ini dibawa kepengadilan desa dan diadili oleh seorang demang. Oleh demang itu justru disuruh melakukan sabetan (ujungan) saja, harapannya dengan demikian Tuhan merasa belas kasihan dan segera menurunkan hujan.
Tradisi ini juga menggunakan iringan musik meski sederhana. Iringannya menggunakan alat musik seperti : kendang, kempul, saron, saron, serta kadang melibatkan sinden juga.
Dalam tradisi ini dibutuhkan seorang wasit sebagai penengah yang dibantu oleh 2 orang welandang. Welandang ini dibekali rotan pemukul (rancak) dan berputar-putar mencari penonton yang jago-jago untuk diadu. Orang atau penonton yang siap tanding nantinya mengambil rancak yang dibawa oleh welandang, dan oleh welandang nantinya dibimbing untuk memasuki arena. Namun penonton atau orang pilihan welandang ini belum tentu akan bertanding, karena sebelum bertanding, penonton akan menentukan seseorang pilihan welandang tersebut mampu dipertandingkan atau tidak. Kalau penonton menganggap mampu, maka pertandingan bisa dilangsungkan, sementara jika suara penonton menganggapnya tidak mampu, maka orang tersebut batal bertanding, dan digantikan dengan orang lain juga pilihan dari welandang.

Senin, 08 Desember 2014

PALEMBAHAN GEDONG DAN ASAL NAMA MANDIRAJA

Makam Mbah Gedong yang Ada Di Dalam Cungkup
Mandiraja merupakan salah satu nama kecamatan di Kabupaten Banjarnegara. Kecamatan ini berkembang menjadi salah satu wilayah paling ramai di Banjarnegara. Di Desa Mandiraja Kulon, Kecamatan Mandiraja terdapat suatu makam kuna yang warga sekitar sebut dengan nama Palembahan Gedong atau disebut juga makam gedong. Ditempat ini terdapat satu makam yang tertutup cungkup yang kata para warga sekitar merupakan makam sesepuh pendiri kecamatan Madiraja yaitu Mbah Gedong, untuk itulah tempat ini dinamakan Makam Gedong atau Palembahan Gedong.
Mbah Gedong punya nama asli R.Ng. Mertodiharjo. Konon, beliau masih keturunan dari Sultan Agung dari Mataram. Mbah Gedong merupakan putra dari Adipati Wirawisesa. Berkaitan dengan nama Mandiraja, Beliau dahulunya tinggal disebuah tempat yang dimana di sekitar situ terdapat sebuah pohon yang sangat besar, warga sekitar menyeburnya dengan nama pohon Mandirogung atau Mandiroagung. Dari pohon Mandirogung itulah muncul nama Mandiraja yang selanjutnya digunakan sebagai nama tempat di sekitar pohon tersebut dan sekarang menjadi nama kecamatan.

Sabtu, 29 November 2014

UPACARA BARITAN DIENG

Mbah Naryono sedang Membaca Doa
Baritan merupakan salah satu acara tahunan yang diadakan oleh masyarakat Dataran Tinggi Dieng, Khususnya Masyarakat Desa Dieng Kulon. Upacara Baritan ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali, yaitu bertepatan dengan hari jumat terakhir di bulan Sura atau kalau dalam agama islam bulan Muharam.
Dilihat dari arti kata, Baritan merupakan singkatan dari "mbubarake Peri lan Setan" (membubarkan peri dan setan). Sesuai dengan makna kepanjangannya, Baritan merupakan sebuah upacara / ritual yang ditujukan agar masyarakat desa Dieng Kulon terhindar dari Balak dan Bencana, sehingga kehidupan senantiasa aman, tentram dan damai.
Dalam Upacara Baritan, masyarakat desa mengorbankan satu kambing yang mana kambing yang boleh dikorbankan untuk  dipotong harus memiliki ciri khusus yaitu jenis kambing yang memiliki lingkaran corak warna tertentu pada bulu di badannya, atau masyarakat Dieng biasa menyebutnya Kambing Kendit.
Setelah kambing dipotong, selanjutnya dilaksanakan selamatan atau pembacaan doa bertempat disalah satu titik desa. Disana juga disediakan berbacam-macam sesaji atau uba rampe berupa makanan seperti nasi kuning, ayam ingkung, urab, dll yang siap diperebutkan warga setelah selesai pembacaan doa.

Selasa, 25 November 2014

LEGENDA ANAK RAMBUT GIMBAL DIENG

Dieng dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para dewa, aura mistis dan berbagai mitos masih sangat kental terasa dalam kehidupan masyarakatnya. Salah satunya yang paling menarik adalah fenomena anak gimbal ini. Anak gimbal Dieng terlahir normal, sama dengan anak-anak yang lainnya. Pada suatu fase, tiba-tiba rambut mereka berubah gimbal dengan sendirinya. Berbagai penelitian untuk menyelidiki penyebabnya secara ilmiah belum membuahkan hasil.
Pada kesehariannya anak-anak ini tidak berbeda dan tidak diperlakukan spesial dibandingkan teman-teman sebayanya. Hanya saja mereka cenderung lebih aktif, kuat dan agak nakal. Apabila bermain dengan sesama anak gimbal, pertengkaran cenderung sering terjadi antara mereka. Warga Dieng percaya bahwa mereka ini adalah keturunan dari pepunden atau leluhur pendiri Dieng dan ada makhluk gaib yang "menghuni" dan "menjaga" rambut gimbal ini.
Gimbal bukanlah genetik yang bisa diwariskan secara turun temurun. Dengan kata lain, tidak ada seorangpun yang tahu kapan dan siapa anak yang akan menerima anugerah ini. Konon leluhur pendiri Dieng, Ki Ageng Kaladite pernah berpesan agar masyarakat benar-benar menjaga dan merawat anak yang memiliki rambut gimbal.
Rambut gimbal tidak akan selamanya berada di kepala si anak gimbal. Melalui sebuah prosesi, rambut ini harus dipotong karena ada kepercayaan bahwa jika dibiarkan hingga remaja maka akan membawa musibah bagi si anak dan keluarganya. Prosesi pemotongan tidak boleh sembarangan. Anak gimbal sendiri yang menentukan waktunya. Jika dia belum meminta, maka gimbal akan terus tumbuh walaupun dipotong berkali-kali. Selain ritual-ritual yang harus dilakukan, sang orang tua juga harus memenuhi permintaan anaknya. Apapun permintaan mereka, seaneh dan sesulit apapun, harus disediakan pada saat prosesi pemotongan rambut. Ada-ada saja yang diinginkan oleh mereka. Dari yang wajar seperti sepeda atau sepasang ayam, yang aneh seperti sebumbung kentut, hingga yang sulit dipenuhi seperti satu truk sapi atau mobil sedan.

Kamis, 20 November 2014

MANDIRAJA PUNYA SUMUR JALATUNDA

Selama ini yang banyak orang tahu, sumur Jalatunda adanya hanya di Dataran Tinggi Dieng. Ternyata itu salah, karena di daerah Mandiraja, Banjarnegara ada juga sumur yang bernama sumur Jalatunda. Sumur Jalatunda berlokasi di Desa Jalatunda Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara. Konon, Sumur Jalatunda ini telah ada jauh bahkan sebelum Desa Jalatunda berdiri. 
Dahulu kala, datang seorang kerabat Presiden Indonesia pertama Ir Soukarno ke sumur tersebut. Beliau membawa sebuah kitab atau buku kuna yang katanya bernama kitab Jayabaya. Dalam kitab tersebut menunjukan bahwa lokasi tempat sumur tersebut berada bernama sumur Jalatunda yang sebenarnya atau yang asli. Bukan ditempat lain seperti di daerah Dieng atau tempat-tempat lain. Dari cerita tersebut, lokasi keberadaan sumur tersebut diberi nama Desa Jalatunda.
Menurut penuturan dari Bapak Miharja atau dikenal juga dengan nama Bapak Miran selaku juru kunci dan tetua desa, sumur Jalatunda tersebut dijaga oleh dua orang makhluk, yang pertama bernama Suwandi Geni Manglungkusuma, sementara yang kedua bernama si Abang. Si Abang ini berwujud Macan Putih.
Setiap tahunnya, tepatnya setiap hari senin lagi dibulan Sura atau yang dalam kalender Hijriah dinamakan bulan Muharram dilaksanakan semacam upacara tradisi. Upacara tradisi tersebut selalu dihadiri oleh banyak pengunjung dari berbagai kota di Indonesia, serta dari berbagai macam profesi dari mulai pengusaha, petani, pejabat, politisi, dan lain-lain. Para pengunjung tersebut banyak yang percaya bahwa sumur Jalatunda bisa dijadikan lantaran hajatnya bisa dikabulkan oleh Tuhan YME.

Rabu, 05 November 2014

JEJAK KI AGENG SELAMANIK

Menurut kisah, Ki Ageng Selamanik adalah seorang mantan komandan perang Pangeran Diponegoro yang sangat setia serta cinta kepada bumi, tanah air, dan bangsanya. Beliau tidak mau hidup dalam pelukan penjajah Belanda. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Kompeni, lalu Ki Ageng Selamanik meneruskan perjuangan Pangeran Diponegoro dengan menghimpun para pemuda untuk dididikagama dan beladiri.
Makam Ki Ageng Selamanik
Mendengar kegiatan Ki Ageng Selamanik tersebut, Kompeni merasa gerah. Maka dari itu, Kompeni beberapa kali mengirim utusannya untuk menangkap Ki Ageng Selamanik. Namun selalu saja dibarengi dengan kegagalan.
Merasa mengalami kesulitan, akhirnya Kompeni mengadakan sayembara, barang siapa yang dapat menangkap Ki Ageng Selamanik akan diberi hadiah uang. Ada yang mengajukan diri dan merasa sanggup, dia bernama Jugil Awar-Awar, kebetulan orang tersebut mengenal Ki Ageng Selamanik karena pernah bertapa bersamaan waktu dan tempatnya di puncak gunung Sumbing. Adapun bedanya, Ki Ageng Selamanik bertapa untuk keperluan positif, sementara Jugil Awar-Awar bertapa untuk keperluan negatif.

Minggu, 02 November 2014

ASAL-USUL DESA GUMELEM


Gerbang Menuju Girilangan Diatas Bukit
Terbentuknya Desa Gumelem Wetan dan Desa Gumelem Kulon adalah sebuah rentetan sejarah yang sangat panjang dari sebelum Sutawijaya menjadi Raja di Kerajaan Mataram hingga Kerajaan Mataram Islam mengalami kejayaan. Di masa Kerajaan Mataram, beberapa momentum penting yang terkait dengan berdirinya / terbentuknya Desa Gumelem dapat di kisahkan dalam Kisah Dwegan Klapa Ijo dan Perdikan Gumelem.

I.         KISAH DWEGAN KLAPA IJO
Asal muasal Gumelem berawal dari sebuah peristiwa yang dilakoni oleh dua orang kakak beradik yaitu Ki Ageng Pamanahan dan Ki Ageng Giring (Juru Mertani). Konon di Abad ke XIV, sewaktu Ki Ageng Giring sedang berladang, beliau mendengar suara gaib yang mengatakan  siapa yang meminum dwegan klapa ijo yang dipetiknya diladang dengan sekali habis, maka anak turunanya akan menjadi raja-raja di tanah Jawa. Namun, merasa dirinya belum merasa haus, kelapa muda yang baru dipetiknya itu diparas dulu dan disimpan di rumah di atas “ Para “ .
Selesai  melakukan aktivitas bertani, Ki Ageng Giring pulang ke rumah dan melihat Dwegan Klapa ijo nya sedang di minum Ki Ageng Pamanahan, melihat peristiwa itu, Ki Ageng Giring hanya mengatakan sesuatu kalimat yang mengandung maksud sudah menjadi keberuntungan Ki Ageng Pamanahan dan keturunan – keturunanya.
Apa yang menjadi keyakinan Ki Ageng Giring terhadap Air Kelapa Muda diatas ternyata terbukti. Tahun 1600-an anak dari Ki Ageng Pamanahan yang bernama Sutawijaya menjadi Raja Mataram. Dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alogo Sayidin Panoto Gomo. Dan salah satu istrinya bernama Nawangsasi (anak  Ki  Ageng Giring) hingga mempunyai anak yang bernama Jaka Umbaran

Selasa, 28 Oktober 2014

LEGENDA STANA KEMPOL


Ditengah perkebunan salak, terdapat sebuah bangunan. Bangunan itu terlihat tua meskipun sepertinya cukup terawat dengan baik. Latar menuju bangunan tersebut dibuat semacam jalan setapak yang terbuat dari batu-batu seadanya yang terdapat disekitar situ dan tertata rapi.
Stana Kempol, begitu warga sekitar biasa menyebutnya. Berlokasi di Dusun Dirun Desa Singamerta Kecamatan Sigaluh, konon Stana Kempol merupakan nama bangunan sebuah makam.  Makam ini diyakini bukan sembarang makam. Makam ini cuma ada satu-satunya disekitar situ, tidak ada makam yang lain seperti makam-makam pada umumnya.
Menurut salah seorang warga sekitar bernama bapak Martono, konon Stana Kempol merupakan makam seorang Ronggeng yang sangat cantik jelita dan menjadi idaman para pria. Sangking cantiknya, sang ronggeng menjadi rebutan para pria dari berbagai daerah.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Sunan Giri Wasiyat

Makam Sunan Giri Wasiyat tampak luar

Nama Sunan Giri Wasiyat memang terdengar asing ditelinga kita semua. Dibandingkan dengan nama-nama seperti Sunan Kalijaga, Sunan Gunungjati, ataupun Sunan-Sunan lain yang masuk dalam predikat Wali Sanga, nama Sunan Giri Wasiyat memang masih jarang yang tahu. Namun meskipun begitu, peran Sunan Giri Wasiyat dalam menyebarkan kawruh agama islam tidak bisa dibilang sepele.
Sunan Giri Wasiyat adalah putra kedua dari Sunan Giri. Kakaknya bernama Prabu Jaka, sementara adiknya bernama Sunan Gripit dan Nyai Sekati. Sunan Giri Wasiyat bersama kedua adiknya bertugas menyebarkan agama islam di wilayah Pulau Jawa bagian tengah. Dan salah satu yang menjadi tempatnya menyebarkan agama islam yaitu di wilayah yang sekarang bernama Banjarnegara.
Alkisah, pada suatu pengembaraannya, beliau sampailah di daerah Banjaranyar, Pekuncen. Disana beliau bertemu dengan Kyai Ageng Maliu, salah satu tokoh besar di daerah tersebut dan menikahkan putrinya dengan Kyai Ageng Maliu. Di daerah tersebut Sunan Giri Wasiyat mengajarkan kawruh agama islam.

Senin, 24 Maret 2014

Bule : Orang Indonesia Ramah dan Suka Senyum

Alkisah, tibalah seorang turis untuk pertama kalinya di Indonesia. Berhubung baru pertama dan belum bisa bahasa Indonesia, bule tersebut menyewa seorang guide untuk menemaninya berlibur di Indonesia.
Singkat waktu, sudah kurang lebih seharian penuh sang bule keliling kota dan tempat wisata untuk berlibur. Dan sekarang waktunya kembali ke hotel dan beristirahat.
Saat hendak perjalanan menuju hotel, sang guide menanyai sang bule tentang kesan-kesannya seharian keliling salah satu kota besar di Indonesia ini.
Ditanya seperti itu sang bule menjawabnya dengan antusias tanda puas. Sang bule melanjutkan bahwa apa yang dia temui disini sesuai dengan apa yang dibicarakan teman-teman di negaranya tentang Indonesia.
“oh iya? Apa itu?” tanya sang guide penasaran.
Bule itu menjelaskan bahwa dia mendengar dari teman-temannya kalau orang indonesia itu ramah-ramah dan murah senyum, dan ketika bule itu datang ke Indonesia, ternyata memang benar begitu adanya.
Mendengar cerita tersebut sang guide bingung. Sang guide bingung lantaran seharian ini bule tersebut sama sekali tidak berinteraksi langsung dengan orang Indonesia, kecuali dirinya. Sang bule lebih banyak asik dengan sendirinya dalam menikmati liburannya di Indonesia.
“lho, tuan kok bisa berpendapat seperti itu dari mana?” tanya sang guide lagi semakin penasaran, sepenasaran orang yang membaca, hehe.
Dengan lantang sang bule menerangkan, bahwa tak perlulah berinteraksi dengan warga Indonesia untuk tahu kalau mereka ramah dan murah senyum. Sang bule itu menceritakan bahwa dia tahu itu hanya dari melihat foto-foto mereka yang terpampang hampir di semua pinggir jalan.
“saya banyak melihat dimana-mana di sepanjang jalan terpampang foto-foto orang sedang senyum!” jelas sang bule.
Sang bule menambahkan, betapa bahagianya orang Indonesia, dimana-mana foto orang senyum dipajang dipinggir jalan.
Mendengar cerita itu sang guide hanya tersenyum tapi masih tertahankan, dan ketika sampai rumah senyumnya menjadi tawa terbahak-bahak.

Menjelang pemilu memang banyak wajah senyum terpampang dipinggir jalan, semoga saja ketika terpilih, senyum itu bisa mereka tularkan ke masyarakat pemilihnya, sehingga seperti yang dikatakan bule tadi benar, bahwa orang Indonesia adalah orang yang ramah, murah senyum, ditambah selalu bahagia. (Amin)

Rabu, 19 Maret 2014

Menuai Nikmatnya Sholat Duha

Jangan bosan dengan tema tentang keajaiban sholat duha. Karena faktanya sudah banyak yang merasakan manfaat dan keajaiban sholat duha jika dilaksanakan secara istiqomah.
Tulisan ini sekedar menambahi saja tentang manfaat dan keajaiban sholat duha yang pernah seseorang alami. Tulisan sejenis bisa didapatkan dengan searching saja kata kunci sholat duha di google, sekali lagi tulisan ini hanya menambahi saja, syukur-syukur ada yang tergerak untuk menjalankan sholat duha setelah membaca tulisan ini.
Ceritanya seseorang bernama Iam. Iam adalah seorang remaja anak seorang guru. Dia baru saja ingin memulai kehidupan barunya dengan lebih mendekatkan diri ke Allah, setelah selama ini terjerumus dalam kebimbangan dan nikmatnya dunia yang fana.
Tekad memperbaiki diri dimulai dengan mengkuti berbagai kegiatan taklim. Dalam salah satu taklim yang dia ikuti, dia menerima pelajaran tentang keajaiban sholat duha. Masih dalam taklim tersebut, karena dia datangnya telat, dia duduk disekitar parkiran, tepatnya duduk lesehan didepan salah satu motor varian baru yang sedang diparkir.
Bersamaan dengan mendengarkan taklim yang disampaikan pembicara, Iam terus saja memandangi motor varian baru yang nongkrong didepannya. Lama memandang, kemudian dia merasa amat sangat tertarik dengan motor tersebut. Dimatanya motor tersebut terlihat unik, menarik, keren, trendi dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Tersirat dibenaknya untuk memilikinya. Namun entah bagaimana caranya, gaji orang tuanya sebagai guru sedang banyak dihabiskan oleh dirinya dan kedua adiknya yang masih sekolah.
Merasa tidak mungkin memiliknya atau meminta dibelikan sama orang tuanya, Iam hanya membatin saja, kalau suatu saat nanti sudah bsa cari uang sendiri, dia ingin punya motor seperti itu. Perasaan ketertarikan itu terus dipupuknya berhari-hari setelah taklim tersebut, meskipun dia sadar akan sulit memilikinya.
Bukan hanya ketertarikan akan motor saja yang didapatnya dari taklim, Iam juga mendapatkan pelajaran tentang sholat duha beserta manfaat-manfaatnya. Karena sudah berkomitmen untuk memperbaiki kehidupan religiusnya, Iam langsung mempraktekan ilmu tentang sholat duha yang baru diperolehnya.
Setiap hari sebelum berangkat sekolah, Iam selalu sempatkan untuk sholat duha 2 kali 2 rakaat. Jika tidak sempat sebelum berangkat, Iam lakukan sholat duha disekolah disela-sela jam istirahat.
Seminggu sudah sejak taklim tentang sholat duha dan ketertarikannya akan sepeda motor varian baru. Keduanya masih diistiqomahi. Istiqomah sholat duha juga istiqomah memimpikan motor varian baru.
Tepat hari setelah satu minggu itu, orang tua dapat rejeki. Orang tua dapat arisan sebesar uang yang bisa dibelikan untuk motor varian baru tersebut. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tapi Iam tetap tidak berani mengatakan ingin motor varian baru. Karena Iam merasa orang tuanya masih banyak keperluan yang perlu dibeli.
Ternyata tanpa disangka dan tanpa diminta, orang tua Iam membeli motor varian baru tersebut. Sungguh bahagia perasaan Iam. Dia tidak pernah meminta, bahkan berdoa kepada Allah pun tidak, karena Iam merasa jauh sekali untuk bisa membeli motor apalagi motor yang varian baru. Iam hanya membatin saja kalau dia pengin punya motor varian baru tersebut.

Ini cerita fakta dan nyata. Subhanallah! Betapa dahsyatnya keajaiban sholat duha jika dijalankan secara istiqomah. Tanpa seseorang itu memohon meminta langsung ke Allah, hanya dengan membatin saja, keinginanya bisa terpenuhi. Mari, mumpung masih diwaktu duha, sempatkan sejenak, matikan gedget sebentar saja, ambil air wudhu, dan kerjakanlah sholat duha. Wallahu A’lam Bishshowab. (Amin)

Selasa, 18 Maret 2014

Aku Sudah Move On


Dicoretanku kali ini, aku mau ngomongin tentang move on. Move on dari apa? Tentu move on dari masa lalu yang tidak mengenakan. Ambil contoh masal lalu yang tidak mengenakan yaitu mantan.
Yang namanya mantan, meski banyak kenangan indah, tapi tetaplah mantan yang harus ditinggalkan. Mantan adalah masa lalu yang tak mungkin kembali, kecuali terjadi CLBK di masa depan.
Bicara tentang move on, akhir-akhir ini aku agak risih dengan lebel yang disematkan padaku bahwa aku gagal move on. Label itu tersemat gara-gara aku masih sering cerita mengenai pengalaman-pengalaman yang dulu bersama mantan yang aku share di sosial media.
Aku tidak memungkiri kalau move on dari mantan memang tidak bisa dibilang mudah kalau tidak mau dikatakan tidak mungkin. Ketika 2 orang memadu kasih, tentu banyak hal-hal indah yang pernah berdua lakukan bersama. Hal-hal indah itulah yang bikin beratnya move on.
Bagiku, move on bukan berati melupakan semua tentang mantan, kenangan indah bersama mantan tak akan mungkin mudah dilupakan. Move on bagiku berarti mengambil hikmah dari kegagalan hubungan dengan mantan untuk membuat hubungan yang baru lebih baik lagi suatu saat nanti ketika kembali merajut kasih. Move on juga berarti tidak mengulangi kesalahan yang dulu dilakukan bersama mantan dihubungan yang baru nantinya.
Lalu kenapa aku seolah tidak rela dengan masih seringnya aku membahas tentang mantan? Begitu tanya temenku. Ketika aku menuliskan sesuatu tentang mantan, itu bukan berarti aku belum move on dan masih mengharapkan hubungan kami kembali seperti dulu. Aku hanya ingin berbagi kepada semua bahwa suatu hubungan ada kalanya terjadi sesuatu yang tidak mengenakan, harapannya itu bisa dijadikan pelajaran bagi mereka yang sedang merajut tali asmara.
Ada teman lain bilang, “move on lah, cari orang lain!” tapi bagiku, move on tidak harus dengan mencari pelampiasan atau pelarian kepada orang lain. Seseorang tidak bisa dikatakan move on hanya karena seseorang itu telah merajut hubungan dengan pasangan yang baru, bisa saja orang tersebut menjalin hubungan baru justru karena seseorang itu belum bisa melupakan mantannya atau dengan kata lain belum bisa move on. Jadi pasangan baru hanya digunakan untuk mengalihkan pikirannya dari mantannya, dan menurutku itu tidak baik.
Bagiku, hubungan harus didasari adanya rasa tulus dari keduanya, bukan karena terpaksa guna untuk melupakan orang lain. Ketika menjalin hubungan atas dasar untuk melupakan mantan, itu berarti orang tersebut buat luka baru dan problem baru. Ketika suatu saat pasangan pelampiasanmu tahu hanya dijadikan pelampiasan, maka dia pasti bakal kecewa, marah, emosi bahkan sedih dan itu bikin problem baru di hidup kita.
Jadi, kalau emang aku belum kembali menjalin hubungan dengan orang lain, itu bukan berarti aku belum move on. Dari pada move on dengan menjalin hubungan baru hanya sebagai pelampiasan melupakan mantan, lebih baik aku menikmati kesendirian ini dulu dengan kembali menjalin persahabatan yang lebih erat dengan teman-teman yang dulu sempat terpinggirkan gara-gara waktuku yang terlalu banyak dihabiskan bareng mantan.
Keep move on bareng teman-teman! Jangan pada heran kalo-kalo tiba-tiba aku ngakrabi kalian yaks,  Cheerfull (*^^*)

Senin, 03 Maret 2014

Biasakan Dengarkan Yang Baik-Baik

Teringat penelitian seorang Doktor kontroversial dari Jepang bernama Dr. Emoto yang membukukan penelitiannya dengan judul “The Hidden Massages in Water”. Inti dari buku tersebut yaitu salah satunya mengenai air yang partikelnya bisa berubah ketika diberi suatu reaksi dari sekelilingnya, misal dengan musik. Ketika didengarkan musik yang baik, partikel air akan baik, sebaliknya ketika diperdengarkan bunyi-bunyi yang tidak baik, partikel air akan berubah menjadi tidak baik pula.
Jadi jika bisa diibaratkan manusia itu seperti air, karena Hampir 65 % tubuh manusia terdiri dari zat cair. Nah jadi ketika diperdengarkan suatu yang baik-baik, maka akan berpengaruh terhadap manusia tersebut menjadi baik, begitu juga sebaliknya.
Kebetulan, beberapa tahun belakangan sedang lumayan tenar lagu milik sebuah band lokal bernama Republik Band berjudul Sandiwara Cinta. Berkali-kali lagu itu diputar di radio hampir setiap hari dan disetiap acara.
Saya, meskipun tidak terlalu suka lagu-lagu Indonesia yang baru-barupun terpaksa ikut mendengar karena di waktu sedang ada suatu kerjaan, biasanya saya sering ditemani dengan radio.
Karena sangking seringnya dan berulang setiap harinya, secara tidak sadar saya hafal lagu sandiwara cinta tersebut. Setelah hafal, kadang saya coba renungi isi lagu tersebut, yang kurang lebih isi lagunya yaitu mengenai seorang pria yang sudah mengetahui pacarnya memiliki kekasih lain, si pria tersebut mengiklaskan kekasihnya tersebut berhubungan dengan selingkuhannya dan rela melepas si wanita ini berhubungan dengan selingkuhannya demi kesenangan si wanita ini sesakit apapun rasanya.
Mungkin terkesan lebay dan cengeng lagunya, tapi entah hanya kebetulan, atau karena apa, lagu itu berdampak dikehidupan nyata saya. Kehidupan nyata saya seolah tersugesti oleh lagu tersebut. Saya merasakan persis sesuai dengan isi lagu tersebut.
Sedih, marah, kecewa, dendam semua campur aduk jadi satu. Seseorang yang selama ini selalu ada disaat suka dan duka, seseorang yang selama ini menjadi tempat berbagi keluh kesah, seseorang yang suatu saat nanti sudah sangat saya idam-idamkan menjadi ibu dari anak-anak saya, dia pergi.
Tidak hanya pergi meninggalkan saya, melainkan justru pergi dengan orang lain yang selama ini sering dia ceritakan sebagai teman biasanya. Dan saya seketika seperti menjadi tokoh pria dalam lagu sandiwara cinta.
Luar biasa, lagu yang sehari-hari saya dengar sampai hafal secara tidak sadar sekarang terjadi dalam kehidupan saya. Apa mungkin sesuatu yang sering kita dengar setiap harinya benar-benar mensugesti diri kita dan akan membentuk kehidupan nyata kita?
Jadi perdengarkanlah sesuatu yang baik-baik saja yang sifatnya positif. Jangan keseringan dengar sesuatu yang sedih-sedih, galau-galau, dan yang lainnya, karena bisa jadi itu mensugesti ke kehidupan nyata. (Amin)

Bertemu Titik Jenuh, Bersyukurlah

Belum genap satu tahun saya memasuki babak baru dalam kehidupan saya. Setelah kurang lebih 4 tahun bergelut dengan dunia perkuliahan yang mengasyikan dan penuh dengan warna, ini saatnya saya memasuki gerbang dunia karir.
Alhamdulillah tidak perlu waktu yang lama, saya diterima di sebuah pekerjaan. Dan sekarang sudah memulai rutinitas pekerjaan kurang lebih sekitar 3 minggu.
Baru sekitar 3 minggu, kebosanan mulai datang. Rutinitas berangkat pagi pulang sore, serta sehari-hari hanya berhadapan dengan orang-orang yang sama membuat saya kadang berpikir untuk mundur dan mencari sesuatu yang sekiranya bisa membebaskan raga ini tapi tetap bisa menghasilkan rupiah.
Setiap waktu pulang juga yang ada hanya keluh kesah, lesu, capek. Rasanya hidup monoton sekali, padahal itu baru 3 minggu, ga kebayang bagaimana rasanya harus seperti ini kurang lebih 2 tahun sesuai dengan kontrak, bisa-bisa stress jiwa ini.
Ga kebayang pula bagaimana mereka para pekerja yang sudah bertahun-tahun lamanya bekerja di kantoran dan yang dihadapi hanya itu-itu saja. Baru saya tahu alasan kenapa beberapa tahun kemarin ada acara TV bertajuk bosan jadi pegawai, ya ternyata memang membosankan jadi pegawai.
Satu waktu sedang senggang, saya buka media sosial dan bertemu teman lama disana. Lama tidak jumpa, biasa kita awali dengan basa basi disana. Panjang lebar kami ngobrol, ternyata dia lagi banyak masalah. Keputusannya menikah muda dan punya anak sementara pekerjaan belum mapan, membuatnya hampir stress.
Berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya tapi tetap saja itu hasilnya pas-pasan. Untuk sekedar menabung bila suatu saat nanti ada kebutuhan mendesak pun tak sempat. Namun, dia masih bersyukur karena selalu ada saja pekerjaan yang didapatnya sehingga anak istrinya masih bisa makan layak tiap harinya.
Namun sekarang, anaknya yang masih balita sedang sakit, dia sangat butuh bantuan, tapi dengan catatan dia hanya ingin dipinjami, dia tidak mau meminta-minta.
Mendengar keluh kesah teman lama, saya jadi merasa malu. Malu karena dengan keadaan saya sekarang, dengan karir yang saya dapatkan sekarang, dengan pendapatan yang jauh lebih dari cukup sekarang, yang saya lakukan tiap hari hanya berkeluh kesah. Saya lupa bersyukur atas segala pemberian rejeki ini. Dengan apa yang saya dapat sekarang, harusnya saya lebih banyak bersyukur.
Dengan bersyukur ini saya mulai kembali bisa menikmati setiap rutinitas kerja. Masih banyak orang yang tidak seberuntung saya. Ketika jenuh dan kebosanan kembali melanda, saya sempatkan datang ke tempat-tempat seperti panti asuhan, rumah sakit, daerah-daerah perkampungan tertinggal, untuk melihat betapa diluaran sana masih banyak orang yang tidak seberuntung kita. Jadi apapun itu, banyak-banyaklah bersyukur, karena dengan rasa syukur kita akan selalu menikamti setiap pekerjaan yang kita lakukan. (Amin)

Selasa, 18 Februari 2014

Cinta dan Benci

Manusia hidup di bumi ini dibekali dengan yang namanya perasaan. Perasaan bisa muncul karena suatu sebab. Rasa kegaguman akan sesuatu akan menimbulkan perasaan cinta, sebaliknya rasa tidak suka akan sesuatu akan menimbulkan perasaan benci.
Sebagai pemilik perasaan tersebut, tentu manusia itu sendiri yang bisa mengaturnya. Apakah akan merasa cinta atau justru akan membencinya. Cinta kepada sesuatu atau seseorang biasanya terasa sangat indah dan menyenangkan, karena sangking indah dan senangnya biasanya akhirnya memunculkan rasa cinta yang berlebihan.
Sebaliknya, perasaan benci pada seseorang atau sesuatu karena sangking bencinya, biasanya akan memunculkan kebencian yang teramat sangat mendalam, dan ketika kebencian yang mendalam tersebut terjadi, apapun yang diperbuat oleh seseorang yang dibencinya tersebut, di matanya tidak ada benarnya sama sekali.
Manusia perlu berhati-hati dalam memendam kedua rasa tersebut. Ada cerita mengenai seorang remaja yang begitu sangat mencintai pasangannya. Sangking cintanya, apapun dilakukan untuk membahagiakan pasangannya. Namun yang namanya manusia, selalu tidak akan ada puasnya. Sudah dapat ini pengin yang itu, sudah punya yang itu, mau yang lain lagi. Dan karena tidak ada kepuasan itu, sang pasangan berpaling mencari kepuasan lain. Akhirnya, cinta yang teramat dalam dan cenderung berlebihan pria tadi hancur berkeping-keping.
Galau? Pasti. Bahkan karena sangking cintanya, kalau tidak kuat iman, bisa saja si pria berpikir pendek dan mengambil jalan mengakhiri hidupnya. Betapa tidak? Orang yang sangat dicintainya secara penuh dan lebih-lebih justru mengkhianatinya. Maka dari itu cintailah seseorang atau sesuatu sewajarnya saja.
Cerita sebaliknya, ada seorang pelajar yang punya musuh. Yang namanya musuh, apapun yang dilakukan musuhnya tersebut, baik ataupun buruk semuanya terlihat buruk, sama sekali tidak ada baiknya. Beruntung cerita permusuhan itu tidak berlangsung lama. Tidak sampai berlarut-larut, permusuhan mereka berakhir damai dan kembali menjalin pertemanan.
Dan beberapa tahun setelahnya, takdir kembali mempertemukan mereka. Mereka bertemu di kota rantau dimana keduanya tidak punya banyak kenalan disana. Beruntung mereka tidak memendam kebencian semasa sekolah terlalu mendalam. Kebencian yang berujung pada permusuhan dulu semasa sekolah sudah berakhir damai. Dan ketika mereka kembali dipertemukan di kota rantau, mereka bisa saling tegur sapa, bercanda bersama saling bercerita, bahkan sering mengadakan pertemuan bersama sebagai obat rasa kangen kepada kampung halaman tercinta.

Dari kedua cerita diatas, kita bisa belajar bahwa dalam mengatur perasaannya, khususnya dalam merasa cinta ataupun benci, sewajarnya saja, jangan sampai berlebihan. Teringat Nabi Muhammad SAW pernah bersabda dalam satu hadis-nya, bahwasanya "Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.”