Kamis, 27 November 2008

GUCI


Semua orang tegal pasti tahu Guci.Sebuah Obyek Wisata Di Kaki Gunung Slamet.Sebuah Objek Wisata Berupa Pemandian Air Panas yang sangat terkenal di Tegal.

Di Guci ada sekitar 10 air terjun yang terdapat di daerah Guci. Di bagian atas pemandian umum pancuran 13, agak jauh sekitar satu kilometer, terdapat air terjun dengan air dingin bernama Air Terjun Jedor. Dinamai begitu karena dulu tempat di sekitar air terjun setinggi 15 meter itu adalah milik seorang Lurah yang bernama Lurah Jedor. Sambil jalan-jalan menikmati pemandangan pepohonan pinus, Anda dapat merasakan kesejukan daerah ini.

Kalau Anda capai dan merasa tidak berminat untuk jalan-jalan, Anda dapat menyewa kuda untuk berkeliling dan melihat air terjun. Cukup dengan uang Rp 15.000 Anda dapat menikmati pemandangan tanpa merasa lelah dan sekaligus bisa belajar menunggang kuda.

Objek wisata ini biasanya ramai dikunjungi pada malam Jumat Kliwon. Banyak orang yang ngalap berkah. Konon, kalau mandi pada jam dua belas malam dengan memohon sesuatu, permohonan apapun akan dikabulkan. Kepercayaan ini sudah turun-temurun.

Bila Anda ingin merasa puas berkeliling di area wisata seluas sekitar 210 hektar ini, Anda dapat menginap di daerah ini selama beberapa hari. Ada banyak penginapan di sini, dari kelas melati sampai berbintang. Dan jangan lupa untuk membawa oleh-oleh kalau pulang. Di sini Anda membeli sayuran segar dengan harga murah seperti wortel, kol, slada air, tomat, sawi, buah pisang dan alpukat. Atau makanan kecil khasnya; sate manisan ceremai.

Cobalah, dan Anda akan merasakan kesegaran dan keindahan berlibur. Objek wisata ini terletak di kaki Gunung Slamet bagian utara dengan ketinggian kurang lebih 1.050 meter dari kota Slawi sekitar 30 km atau dari kota Tegal berjarak tempuh sekitar 40 km ke arah selatan. Di tempat wisata ini telah tersedia berbagai macam fasilitas seperti penginapan, wisata hutan (wana wisata), kolam renang air panas, lapangan tennis, lapangan sepak bola, dan bumi perkemahan.

Guci mudah dijangkau. Dari Slawi Anda bisa naik mini bus jurusan Bumi Jawa dengan ongkos Rp 5.000. Setelah sekitar tiga puluh menit, Anda berhenti di Desa Tuwel. Di situ banyak kendaraan bak terbuka menunggu penumpang menuju Guci. Anda cukup membayar kendaraan itu dengan Rp 5.000 saja. Tigapuluh menit Anda akan sampai tempat wisata yang sungguh menarik ini.

TEH POCI


Teh Tegal (sing lewih dikenal karo jeneng teh poci; uga teh Slawi) kuwe teh sing khas sekang Tegal, Indonesia. Teh kiye aromane khas tur rasane rada sepet.

Kebiasaan ngombe teh poci utawa moci uwis jadi tradisi kanggone wong Tegal, kiye disebabake pertumbuhan pabrik-pabrik teh ning Tegal tahun 1930-an sing nyebabkna timbule tradisi kuwe. Ngombe teh jadi gencar sing jamane kolonial tekan saiki uga uwis dadi budaya lokal. Hidangan ombenan kiye disajikena karo gula batu tur luwih pase nek dimbe pas esih anget rada panas.

Ana istilah teh poci "WASGITEL" sing artine WAngi, panaS, leGI, lan kenTEL.(wikipedia)

Minggu, 23 November 2008

Rambut Gondrong dan Semrawut

Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, dibilang tampan pun juga tidak, dia anak muda yang biasa-biasa saja. Ada satu yang menjadi kelebihannya, yaitu suaranya yang lumayan enak didengar, secara dia vokalis band. Dia bernama Opik.

Pada suatu malam yang cerah unutuk jiwa yang sepi, Opik mendapat sms dari Dedi. “Pik yuh cepet mene ngumpul neng umahe Zizah!” begitu bunyi sms tersebut.

Lalu Opik Balas. “Emang ana acara apa bro?trus sing kumpul sapa ae?”

Tak beberapa lama kemudian, sms balasan datang. ”wis pokoke mene ae!ngko tak terangna neng kene.” begitu balasannya.

Karena kelihatannya sangat penting, akhirnya Opik pergi juga ke rumah Zizah.

Sesampainya di sana,ternyata remaja-remaja RT.6 sudah pada kumpul, Opik bingung karena tumben-tumbennya remaja RT.6 pada ngumpul.

“akhire sing ditunggu teka juga.” Teriak Dedi

”ya keh terpaksa soale katone penting nemen,emang ana apa sih?” tanya Opik

”pan ana lomba paduan suara antar pemuda.” jawab Nurul

”yaul Pik, aduh nte ketinggalan brita nemen sih.” kata Zizah mengiyakan.

”yuh mene pada mlebu umah,rembugan ndisit!” suruh Dedi.

Pada saat itu jam sudah menunjukan pukul 21.00. Saat Opik masuk, ternyata di dalam sudah ada Anis, dia kelihatan sangat ngantuk.

Setelah semua masuk, Dedi mulai memimpin pembicaraan.

”kaya kiye kawan-kawan,wulan ngarep pan ana lomba paduan suara antar pemuda RT,pesertane 6 uwong.’ Terang Dedi.

”jon, kiye nembe 5 owh, kurang siji.” kata Opik.

iya yah, sapa maning sijine?” tanya Zizah.

”ngko delat maning Ilman teka.” kata Dedi.

hah Ilman!!!ora salah kweh? Bocah brandalan kaya kuwe??” kata Nurul yang agak ragu mengingat Ilman itu terkenal brandalannya.

”gapapa lagi, aku krungu krungu Ilman duwe band, trus Ilman vokalise.” terang Zizah.

”wah kbeneran nemen yah.” kata Dedi.

Selang beberapa menit kemudian, Ilman datang berpakaian ala orang brandalan, dengan celana ketat, lututnya robek, rantai di celananya serta rambut gondrong dan semrawut.

”permisi....” sapa Ilman.

”iyaul monggo Man langsung mlebu ae.” jawab Dedi.

akhire komplit juga.” terang Zizah.

Hmmm...” ungkap Opik mengiyakan.

Ya terpaksalah, dari pada laka maning.” jawab Nurul yang sepertinya kurang ikhlas dengan keikutsertaan Ilman.

”Yuh langsung latihan!” ajak Dedi, ”yuh ngadeg kabeh latian, ayo sing pertama latian barise dhisit nggo posisi nyanyi neng panggung.” terang Dedi.

Izah, Nurul, Ilman dan Dedi sudah berdiri dan siap untuk latihan barisan, sementara itu Opik dan Anis masih duduk seakan-akan tak mengindahkan perintah Dedi.

”Weh! Cepetan owh pada ngadheg! Bentak Ilman yang sepertinya geram.

”Iya bro,nyante.” jawab Opik.

”Sms-an karo tarok bae!” bentak Ilman lagi yang ditujukan khusus pada Opik.

”Iya-iya ora usah nggentak kaya kue owh, biasa bae! Nembe teka angas!” balas Opik yang mulai jengkel setelah ngrasa dibentak-bentak Ilman.

Wis-wis, malah ribut dewek, cepet nggadheg kabeh, wis bengi keh!” kata Dedi menengahi.

Kye maning Anis, sing mau awit nembe teka ngantuk bae, cepet tangi!” suruh Zizah pada Anis yang dari tadi sejak datang ngantuk aja.

”Iya kweh, Anis sing mau ngantuk bae.” tambah Nurul.

Akhirnya mereka semua berdiri, dan berlatih dengan sungguh. Hari pertama mereka berlatih baris, hari-hari berikutnya mereka berlatih lagunya, sampai kurang lebih sulan lamanya, mereka berlatih 2 kali seminggu.

Akhirnya sampailah juga pada hari perlombaan yang bertempat di balai kelurahan. Saat pengambilan nomor urut penampilan, kelompok RT kami mendapat nomer undi 8. Kami semua santai karena giliran penampilan masih lama.

Pada saat penampilan pertama tiba-tiba Zizah terus memperhatikan Opik dan Ilman.

Zah, kowen knang apa? Sing mau ndelengna aku bae, naksir maring aku yah,hehehe......” tanya Opik.

”Wew, najiz cuih.” jawab Zizah. ”Dudu kaya kue, kowen cah loro, rambute gondrong lan semrawut nemen.” terang Zizah.

”Iya ya.” kata Nurul mengiyakan.

”Mana len ditelesi mboran.” suruh Zizah.

”kwe mana neng mburi ana toilet owh.” suruh Dedi pada Ilman dan Opik.

”Iya mumpung nembe pan penampilan kedua.” tambah Zizah.

Akhirnya dengan terpaksa Opik dan Ilman pergi ke toilet untuk membasahi rambut.

Sesampainya di toilet, mereka bingung, tidak ada airnya, kran juga tak mengeluarkan air.

Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk pulang sebentar ke rumahnya Opik mumpung masih dipenampilan kedua. Mereka pulang ke rumahnya Opik dengan naik motor Jupul pinjem motor miliknya Dedi.

Mereka langsung tancap gas karena khawatir barang kali terlambat. Tiba-tiba di tangah perjalanan, motor itu macet, mesinnya mati. Dengan terpaksa Opik dan Ilman menuntunnya sampai rumah Opik.

Sementara itu, di tempat perlombaan berlangsung, terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan kelompok RT 6. Setelah nomor undi 2, langsung diloncat ke nomor undi 6, yang berarti kelompok RT 6 hampir tampil, namun Opik da Ilman masih belum kembali.

Sementara di rumah Opik, mereka baru saja memakai minyak rambut biar rambut keliatan rapi meskipun gondrong. Setelah mereka memakai minyak rambut, mereka lalu menyisir rambut mereka biar rapi. Pas mau kembali ke tempat, Opik dan Ilman berusaha untuk menyalakn mesin motor kembali.

Sementara di tempat perlombaan, nomor undi 6 sudah selesai tampil, dan ternyata nomor undi selanjutnya yang dipanggil adalah nomor undi 8! Kelompok RT. 6 bingung bukan main, personil mereka kuarang 2 orang. Namun karena sudah dipanggil 3X akhirnya kelompok RT. 6 tampil dengan hanya 4 orang.

Sementara di rumah Opik, mesin motor udah nyala, dan mereka berdua segera tancap gas. Tak beberapa lama mereka smpai di tempat lomba. Sesampainya disana tiba-tiba mereka langsung disambut dengan tepuk tangan sambil ada yang ngomong goblog-goblog gitu. Opik dan Ilman pun kebingungan bukan main. Tiba-tiba Opik langsung lari menuju Opik dan Ilman.

”Weh suwe nemen sih!” tutur Dedi dengan nada keras seperti membentak marah.

”Iya maaf, emang knapa sih?” kata Opik.

”Wis maju jon.” tutur Dedi kesal.

”Apa!!!!” jawab Opik bebarengan dengan Ilman.

”Iya, kas nomer undi 2, langsung nomor 6, trus nomor 8.” kata Zizah yang tiba-tiba datang.

”Wis yuh balik bae!” ajak Nurul yang juga agak kesal.

Usaha satu bulan sia-sia hilang tak berbekas gara-gara rambut yang gondrong dan semrawut.


By. Akhmad Fatkhul Amin


MUSUH DALAM SELIMUT

Disuatu hari yang cerah untuk jiwa yang sepi, terdengarlah suara percakapan santai antara Pak Lurah dengan Sekretarisnya, di teras rumah Pak Lurah.

Lurah : Tidak kusangka ya Pak, kesampaen juga saya jadi Lurah.

Sekretaris : Ah, itu semuakan karena usaha Bapak yang keras yang dilakukan selama ini, saya juga sampai iri lho Pak.

Lurah : Ah juga, itu dukungan dari Bapak juga.

Oh ya, ngomong-ngomong dulu katanya Bapak mau jadi Lurah juga?

Sekretaris : Oh itu yah, ya saya sekarang lagi usaha sedikit-sedikit

Lurah : Saya doain moga-moga bisa tercapai.

Sekretaris : Ya mudah-mudahan aja lah.

Lurah : Oh ya sampai lupa, mari diminum Pak, nanti keburu dingin.

Sekretaris : Oh ya trima kasih.

Perbincangan berlangsung dengan santai sampai waktu menjelang sore hari, maklumlah mereka berdua sudah kenal sejak masih duduk dibangku SMA.

Esoknya, tiba-tiba terdengar ribut-ribut dikalangan warga. ”Turunkan Pak Lurah!”, begitulah kalimat tersebut didengungkan berulang-ulang oleh banyak warga desa.

Sementara itu di teras rumah Pak Lurah,

Jablud : Oh iya, aku tempelin juga selebaran ini di rumah Pak Lurah.

Lurah : (Keluar dari rumah) Heh Jablud, lagi ngapain kamu disini!

Jablud : Iiini Pak, lagi nempelin selebaran.

Lurah : Selebaran? Selebaran apaan? Coba lihat!

Jablud : Iiini Pak, selebaran yang nyuruh Bapak mundur! (Wajah pucat seperti orang ketakutan)

Lurah : Apa! (Marah) ” Lurah korupsi, lurahnya jelek, malas, sukanya narik pungutan, mending mundur aja! ” Apa ini? Siapa yang membuat ini, Jablud!!

Jablud : Saya nggak tahu Pak, sumpah saya nggak tahu, saya Cuma disuruh nyebarin ini, klo sudah slesai nanti dikasih duit, Pak.

Lurah : Apa!!! (Kesal)

Sekretaris : (Datang ke rumah Pak Lurah) Assalamualaikum.( Salam-salaman dengan Pak Lurah dan Jablud)

Jablud dan Lurah : Waalaikumussalam

Sekretaris : Pak gawat Pak, gawat! (Gugup)

Lurah : Gawat gimana? Gawat gimana? (ikut gugup)

Sekretaris : Disana Pak! Disana!

Lurah : Iya disana kenapa! (tambah gugup)

Sekretaris : Disana semua warga kumpul, mau nyerbu ke rumah ini!!

Lurah : Apa!! Aduh gawat, apa salahku ya? Sebenarnya siapa dalang dari semua ini? Aduh!! (Panik)

Sekretaris : Terus gimana nih Pak??

Lurah : Aduh! Saya juga bingung, kamu ikut mikir juga donk!

Sekretaris : Oh ya, Jablud! Nte ikut mikir juga donk!

Jablud : Hey, knapa aku? Akukan nggak ikut-ikutan. Wong aku juga ikut nuntuk Bapak mundur!

Sekretaris : Ah, payah kamu!

(Lurah dan Sekretaris bingung bukan main, sementara Jablud santai aja)

Tiba-tiba.....

Pendemo : Turunkan Pak Lurah, turunkan Pak Lurah!!!! (Datang ke rumah Pak Lurah)

Sekretaris : Tenang-tenang, tenang dulu Bapak-bapak, mari selesaikan dengan pikiran yang jernih, mari kita berdiskusi!

Pendemo 1 : Ah nggak pake, nggak pake diskusi-diskusian! (Sangar)

Pendemo 2 : Betul itu! Pokoknya Pak Lurah harus mundur!!

Jablud : Oya bener-bener!!!

Pendemo 3 : Jablud, ente ikiut kita? Okeh!

Lurah : Bapak-bapak, saya mohon maaf jikalau punya salah, tapi masalah korupsi, demi Tuhan demi Allah, saya nggak nglakuin, saya siap disumpah pocong!!!

Pendemo 1 : Lalu bagaimana dengan selebaran ini!! (menunjukan selebaran)

Pendemo 2 : Betul itu! Lalu selebaran ini dari mana datangnya??

Pendemo 3 : Ya betul! Coba baca serlebaran ini! Diselebaran inikan tertulis bahwa Bapak korupsi!! (kesal)

Lurah : Iyasih, saya juga sudah baca, tapi saya sungguh nggak tahu dari siapa datangnya selebaran ini!

Sekretaris : Coba pinjam! Apasih isinya?

(Setelah membaca) Aduh parah Pak! Kalau Bapak beneran nglakuin ini! (kecewa pada Lurah)

Lurah : Kamu percaya dengan selebaran itu?

Sekretaris : Ya, mau bagaimana lagi?

Pendemo 1 : Ya betul! Tega-teganya Pak Lurah disaat zaman sesulit ini, apalagi ditambah naiknya harga BBM, Bapak malah Korupsi!

Lurah : Ya Allah, Ya Tuhanku, bagaimana saya harus menjelaskan pada mereka supaya mereka percaya??? (melihat ke atas)

Pendemo 2 : Udahlah Pak! Ngaku aja!!! (marah)

Pendemo 3 : Iya Pak! Sebelum warga membakar rumah ini!!!

Jablud : Ah udahlah! Nggak usah banyak cingcong! Kita bawa aja Pak Lurah ke warga, biar digebugin rame-rame!! (Kesal)

Pendemo 2 : Oke juga idemu Jablud!!!

Pendemo : Ayo!!! (Narik Pak Lurah)

Lurah : Tolong-tolong saya Pak Sekretaris! Ah....

Pelayan : (Seorang pelayanan foto copy datang) Pak Sekretaris, Pak Sekretaris!!

Sekretaris : Lho kamu kok kesini? Ngapain? (Bicara pelan, sambil menarik baju pelayan)

Pelayan : Begini Pak, saya tadi lupa, selebaran ini di foto copy berapa lembar?

Sekretaris : Aduh, ketahuan nih! (cemas dan pucat)

Palayan : Oh yap, saya juga lupa tadi Bapak titip uang ke saya berapa?

Sekretaris : Heh...kamu ini!! (kesal)

Lurah : Lepaskan tangan saya! Oh jadi ini dalangnya!!! (marah)

Pendemo 2 : Oh kita salah orang!! (marah sambil menyingsingkan lengan baju)

Pendemo 1 : Enaknya yang ini kita apain ya? (sambil menggepalakan tangan)

Jablud : Sikat aja langsung!! (geram)

Pendemo 3 : Ya betul, ayo!!!

(Semua orang ngrubungi Pak Lurah dan menariknya)

Pelayan : Lho kok kaya gini? Ada apasih sebenarnya? Jadi bingung? Ah bodo amat.


TAMAT

Sabtu, 22 November 2008

Tiga Perampok

“Kyu!” sambil melemparkan kartu bernomor sembilan ke meja.

“Hahaha, aku menang lagi,” lanjutnya.

“Bangsat, kalah lagi kalah lagi,” ungkap Jarwo lwan main Bendot kesal.

“Yuk main lagi,” tambahnya.

Sambil main kartu, mereka berdua bercengkrama mengenai target oprasi selanjutnya. “Gimana nih, entar malem jadi nggak?” tanya Jarwo pada Bendot.

“Ya jadilah, entar malem gilirannya pengusaha yang ada di Jl. An yang gayanya sok alim itu.” Jawab Bendot tegas.

Saat mereka sedang asyik-asyiknya main dan ngobrol, tiba-tiba Alex satang sambil berlari-lari. “Sorry nih aku telat,” teriak Alex sengan duara ngos-ngosan.

“Lex ntar malem gilirannya pak Ali yang ada di Jl. An itu.” Kata Bendot memberi tahu pada Alex.

“Ya ul!” jawab Alex.

Malamnya, mereka berkumpul seperti biasa si rumah kosong dekat kali. Namun sudah habis Isya Alex tidak kinjung datang juga. Baru beberapa menit setelah itu ia datang. “ woi kalian aku nggak telatkan?” teriak Alex yang baru datang sambil berlari.

“Ya udahlah nggak apa-apa, yuk langsung kesana nggak usah berlama-lama,” ajak Bendot menengahi.

Sambil memakai penutup kepala, mereka berjalan menuju rumah pak Ali melewati dinginnya mimpi akan sukses malam ini dan menerjang semak belukar yang gelap agar tidak terlihat orang.

“Nah ayo disini kita naik pagar ini,” jelas Bendot setelah sampai si samping rumah pak Ali.

“Sini aku yang pertama,” terang Jarwo mengambil alih pimpinan.

“Wo, hati-hati ntar yang empunya rumah tahu,” tutur Bendot memberi tahu Jarwo yang saat naik sambil bernyanyi-nyanyi.

“Tenang sajalah, menurut penelusuranku yang empunya rumah sedang pergi semua,” jawab Jarwo dengan nada santai.

Setelah masuk pekarangan rumah pak Ali, wajah Jarwo yang sangat optimis tiba-tiba berubah menjadi wajah pesimis, “Kenape lu, ko raut muka lu jadi gitu?” tanya Bendot.

“Ini nanti kita lewat mana nih?” jawab yang Jarwo yang balik menanya.

“Lewat jendela belakang! aku sudah menyelidikinya dan ternyata jendela belakang rumah ini tak pernah di kunci cuma ditutup doang,” jawab Bendot.

Sesampainya tiba di halaman belakang rumah, Bendot langsung mendobrak sebuah jendela dari kayu yang dimaksudnya tadi.

“brok!” suara jendela didobrak.

Sesampainya di dalam rumah, mereka berbagi tugas. Bedot dan Jarwo masuk kamar untuk mencari barang-barang berharga, sedangkan Alex bertugas menjaga keamanan barang kali ada yang datang.

Beberapa menit berselang, Bendot dan Jarwo kembali berkumpul dengan Alex dan mereka berdua tertawa terbahak-bahak.

Namun, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan muncullah sesosok bayangan dan berkata, “Siapa yah, malam-malam ribut-ribut? ohok ohok ohok.” Mereka bertiga pun kaget bukan kepalang mendengar suara tersebut. Usut-punya usut, ternyata bayangan tersebut adalah bayangan seorang lelaki tua yang sudah mulai sakit-sakitan.

“Hah, pak Ali?” kata mereka bertiga serempak.

“Eh, kaliankan pemuda dari Jl. Ni, ada apa malem-malem gini?” kata pak Ali sambil menyalakan lampu.

Setelah lampu menyala giliran pak Ali yang kaget bukan kepalang, “Bawa apaan kalian? rampok yah,” Kata pak Ali sambil menunjukan jari tangannya mengarah kebungkusan yang dibawa Jarwo.

“Kalo iya kenapa?” jawab Bendot.

“Lex todongkan pistolmu pada kepalanya!” suruh Jarwo yang kesulitan mengambil pistolnya sendiri karena sedang membawa barang rampokannya.

“Oke, sana kalian pergi dulu, biar aku yang tanganin ini!” suruh Alex pada Jarwo dan Bendot sambil menodongkan pistolnya pada kepala pak Ali.

Namun saat Alex sudah sangat siap untuk mendaratkan timah panasnya pada kepala pak Ali, tiba-tiba keluar sebuah petuah dari mulut pak Ali yang sama sekali tidak merasa takut. “Insyaflah wahai manusia, jika dirimu berdosa, dunia hanya naungan, tuk makhluk ciptaan Tuhan.”

Mendengar petuah yang tiba-tiba keluar dari mulut pak Ali, hati Alex terketuk dan tiba-tiba jadi merasa takut pada Tuhan. Dan ternyata bukannya menembak kepala pak Ali, Alex langsung membelokkan pistolnya ke atas dan langsung menembakkannya ke atap rumah. Sebelum pergi, Alex mengucapkan kata maaf dan terima kasih pada pak Ali.

Karena merasa dirampok, pak Ali lekas menelepon polisi. Dan melaporkan kejadian tersebut. Beberapa menit kemudian polisi datang dan segera saja mengajak polisi tersebut ke komplek Jl. Ni untuk mencari Bendot, Jarwo dan Alex.

Sementara itu di tempat lain, Jarwo dan Bendot terus tertawa terbahak-bahak karena merasa puas atas apa yang didapatnya hari ini, sedangkan Alex hanya terus berdiam diri memikirkan petuah pak Ali tadi.

“Hebat kau Lex, berani membunuh pak Ali,” ungkap Bendot bangga pada Alex sambil dilanjutkan dengan tawa lebar.

“Siapa yang bilang aku membunuh pak Ali?” tanya Alex pada mereka berdua.

“Maksud lu?” tanya Bendot.

“Aku nggak membunuh pak Ali, aku kasian aja, jadi ia aku biarkan hidup,” jawabnya.

“Apa kau bilang? Jangan bohong lu Lex!” terang bendot yang awalnya tertawa jadi naik pitam.

“Aku nggak bohong, kapan sih aku bohong ama kalian?”

“Bangsat lu Lex, apa sih maumu? Kita bisa ditahan goblog!” kata Bendot sambil mendekati Alex lalu memukulkan bogem mentah tepat di wajahnya.

Alex tidak mau kalah, ia gantian memukul Bendot. Dan terjadilah pergulatan hebat antara mereka berdua. Sementara itu Jarwo berusaha menenangkannya. Namun, bukannya berhenti malahan perkelaian mereka bertambah sengit, sampai-sampai Jarwo pun ikut kena pukul.

Karena terlalu jengkelnya, sampai-sampai Bendot meengeluarkan pistolnya dan berusaha menembakkannya pada Alex. Namun, Alex masih bisa menahannya, sampai tiba-tiba, “Duar duar duar!” tiga buah timah panas keluar dari pistol tersebut.

Sementara itu pak Ali dan para polisi yang tidak jauh dari tempat itu mendengar suara tembakan tersebut. Tanpa pikir panjang, mereka pun segera menuju sumber suara tembakan tersebut.

Sesampainya di sebuah rumah kosong dekat kali, palisi langsung mengepung rumah tersebut. “Buang senjata kalian dan menyerahlah!” teriak si komandan polisi.

Setelah itu salah seorang polisi mendobrak pintu masuk rumah tersebut dan mendapati Jarwo tergeletak tidak bernyawa dengan tiga buah peluru bersarang di tubuhnya yang sedang dipeluk Alex dengan wajah penuh haru. Sementara Bendot hanya duduk terpaku dengan tetesan air mata melihat temannya mati oleh tanannya sendiri.

Akhirnya mayat Jarwo langsung dibawa ke RSUD untuk diotopsi, sedangkan Bendot dan Alex digiring ke Polda Metro Jaya. Namun sebelum dibawa polisi, Alex kembali diberi petuah pak Ali, “Saya percaya kamu orang baik-baik, aku sering melihat kamu sholat berjamaah, bertobatlah sebelum terlambat!”

“Terima kasih, aku akan jalankan petuahmu,” jawab Alex.


Akhmad Fatkhul Amin

KALIMATI

Konon pada dahulu kala ada sebuah sungai yang sangat lebar,panjang dan dalam. Sungai itu memisahakan dua daerah yang berbeda. Sungai itu sering dilewati oleh pedagang-pedagang dari kedua daerah itu untuk menjual barang daganganya ke daerah seberang sungai lainya tersebut. Dengan menggunakan perahu tradisional setiap hari juga banyak orang lalu lalang disungai tersebut untuk keperluan sahari-hari karena waktu itu masih belum ada jembatan.

Suatu hari ada pedagang yang tenggelam di sungai tersebut ketika sedang menyeberangi sungai hingga meninggal dunia. Keesokan harinya kejadian serupa kembali terulang bahkan hingga beberapa kali. Hari demi hari jumlah orang yang tenggelam di sungai terus bertambah banyak. Sampai akhirnya pemimpin kedua daerah tersebut bertemu dan berunding untuk mencari jalan keluar minimal untuk mengurangi jumlah korban yang terus bertambah. Karena ketidak lancaran dalam perdagangan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi maka kedua pemimpin tersebut menyetujui kesepakatan untuk mempersempit sungai tersebut sehingga dapat mempermudah lalu lintas perdagangan dll. Setelah penyempitan sungai dilakukan banyak warga yang mendirikan rumah diatas bekas sungai tersebut karena itu merupakan tempat strategis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak orang hidup makmur setelah pindah ketempat bekas sungai. Sampai akhirnya tempat yang dulunya sungai menjadi padat penduduk.

Beberapa ratus tahun kemudian daerah tersebut diserang oleh penjajah. Banyak orang meninggal dunia didaerah tersebut tapi anehnya warga yang tinggal ditempat yang dulunya bekas penyempitan sungai tersebut tidak terdapat orang yang meninggal dunia karena serangan penjajah, Hingga akhirnya setiap kali penjajah menyerang banyak warga sekitar yang bersembunyi didaerah bekas penyempitan sungai tersebut sambil berharap mendapatkan berkah panjang umur.

Puluhan tahun berlalu, daerah itupun kian berkembang pesat sampai akhirnya seseorang menamai daerah tersebut KALIMATI, karena waktu itu daerah tersebut belum memiliki nama. Nama Kalimati dipilih karena memiliki banyak arti, yang pertama karena mulanya daerah tersebut adalah sungai yang disempitkan atau dimatikan. Arti yang kedua karena dulunya daerah tersebut sering memakan korban kematian. Dan arti yang terakhir karena ketika penjajah menyerang orang yang keluar dari daerah kalimati akan meninggal dunia atau mati.

Sampai saat ini bukti bahwa daerah kalimati dulunya adalah sungai yang disempitkan masih dapat ditemukan. Seperti ketika akan membuat sumur, dikedalaman beberapa meter akan ditemukan pasir-pasir. Padahal didaerah lainya ketika akan membuat sumur yang ditemukan adalah tanah-tanah lempung bukan tanah pasir. Selain itu banyak penduduk yang tinggal didesa Kalimati hidupnya makmur dan sejahtera karena perdagangan.

Desa Kalimati terletak di Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal.


TAHU ACI

Tahu aci biasa dikenal juga dengan sebutan tahu Slawi, tahu yang berasal dari Slawi-Kabupaten Tegal. Tapi orang Slawi sendiri tak ada yang memproduksi tahu, penjualnya pun jarang ditemui. Tahu ini diproduksi di daerah Banjaran-Adiwerna.

Tahu aci merupakan makanan berbahan dasar tahu kuning, yang ditambahkan adonan aci (kanji) yang telah dibumbui dan ditambah sedikit irisan daun kucai. Yang khas, tahu aci rasanya gurih. Uniknya, tahu aci dibuat dari tahu kuning persegi dengan sisi sekitar 7 cm, kemudian dipotong secara diagonal membentuk segitiga sama kaki. Bekas potongan tadi, ditempeli aci hingga penuh, kemudian digoreng dengan minyak goreng panas yang banyak, sehingga tahunya matang di semua sisi.

Tahu aci itu konvensionalnya, sekarang sudah dimodifikasi, jadi tahu plethok, yaitu tahu yang salah satu permukannya dibalut aci, kemudian digoreng kering. Ada juga keripik tahu, yang dijual dalam kemasan plastik per kilogram.

Tahu kuning sendiri, produsennya yang cukup besar dan terkenal adalah Tiga Roda milik Tju An Tin, tapi tempat produksinya di kampung, di Pekiringan-Talang, agak kurang terjangkau tempatnya. Ada lagi produsen yang cukup besar dan mampu mengekspor ke daerah lain, yaitu Nata Jaya. Selain di dua tempat tersebut, tahu diproduksi pada home industri di Pesalakan-Adiwerna, yang saat ini sudah cukup berkembang, bahkan sudah membentuk sentra produksi tahu.

Untuk tahu aci, dan tahu olahan lainnya, toko yang cukup terkenal adalah Tahu Murni atau Nata Jaya. Tokonya ada di Tahu Murni Banjaran, sebelah bioskop Adiwerna. Di Tegal ada di Jln. A.R. Hakim, sebelah selatan Plaza Marina, barat jalan, atau di jalan keluar bagian kiri Alun-Alun Tegal, barat jalan.

Selain yang dimiliki Tahu Murni, ada Tahu Randu Alas Slawi Kulon, kalau dari Tegal sebelum Slawi Pos, barat jalan. Ada juga Tahu Subur, di utara pertigaan Sentral Banjaran, barat jalan.

By. Arrie

Langit Padhang

Bengi ireng kaya getheng

Wulan padhang ora karuan

Sepi sunyi laka uwong sing lagi mlaku

Pengin metu umah kanggo ngileng

Sawengi ora turu

Cuman pengin ngileng langit

Pengin ngileng langit ing nduwur

Ngileng langit mumpung ora udan

Mumpung wong tuwa lagi sareh

Metu umah aja nganti krungu



oleh: 4tcool


Jumat, 14 November 2008

CARA MEMBUAT TAHU ACI

Bahan :

8 tahu potong melintang,

kerokGaram untuk merendam

Minyak untuk menggoreng



Isi :

Kerokan tahu,

remas150 tepung tapioka

1 sdt bawang putih bubuk

1 sdt merica bubuk

2 sdm daun bawang, cincang halus
Garam secukupnya
Air es secukupnya

Cara membuat :
Rendam tahu di air garam
Campurkan semua bahan isi dan uleni sampai kalis
Isikan didalamm tahu.
Goreng diminyak panas sampai kuning keemasan.