Senin, 24 Maret 2014

Bule : Orang Indonesia Ramah dan Suka Senyum

Alkisah, tibalah seorang turis untuk pertama kalinya di Indonesia. Berhubung baru pertama dan belum bisa bahasa Indonesia, bule tersebut menyewa seorang guide untuk menemaninya berlibur di Indonesia.
Singkat waktu, sudah kurang lebih seharian penuh sang bule keliling kota dan tempat wisata untuk berlibur. Dan sekarang waktunya kembali ke hotel dan beristirahat.
Saat hendak perjalanan menuju hotel, sang guide menanyai sang bule tentang kesan-kesannya seharian keliling salah satu kota besar di Indonesia ini.
Ditanya seperti itu sang bule menjawabnya dengan antusias tanda puas. Sang bule melanjutkan bahwa apa yang dia temui disini sesuai dengan apa yang dibicarakan teman-teman di negaranya tentang Indonesia.
“oh iya? Apa itu?” tanya sang guide penasaran.
Bule itu menjelaskan bahwa dia mendengar dari teman-temannya kalau orang indonesia itu ramah-ramah dan murah senyum, dan ketika bule itu datang ke Indonesia, ternyata memang benar begitu adanya.
Mendengar cerita tersebut sang guide bingung. Sang guide bingung lantaran seharian ini bule tersebut sama sekali tidak berinteraksi langsung dengan orang Indonesia, kecuali dirinya. Sang bule lebih banyak asik dengan sendirinya dalam menikmati liburannya di Indonesia.
“lho, tuan kok bisa berpendapat seperti itu dari mana?” tanya sang guide lagi semakin penasaran, sepenasaran orang yang membaca, hehe.
Dengan lantang sang bule menerangkan, bahwa tak perlulah berinteraksi dengan warga Indonesia untuk tahu kalau mereka ramah dan murah senyum. Sang bule itu menceritakan bahwa dia tahu itu hanya dari melihat foto-foto mereka yang terpampang hampir di semua pinggir jalan.
“saya banyak melihat dimana-mana di sepanjang jalan terpampang foto-foto orang sedang senyum!” jelas sang bule.
Sang bule menambahkan, betapa bahagianya orang Indonesia, dimana-mana foto orang senyum dipajang dipinggir jalan.
Mendengar cerita itu sang guide hanya tersenyum tapi masih tertahankan, dan ketika sampai rumah senyumnya menjadi tawa terbahak-bahak.

Menjelang pemilu memang banyak wajah senyum terpampang dipinggir jalan, semoga saja ketika terpilih, senyum itu bisa mereka tularkan ke masyarakat pemilihnya, sehingga seperti yang dikatakan bule tadi benar, bahwa orang Indonesia adalah orang yang ramah, murah senyum, ditambah selalu bahagia. (Amin)

Rabu, 19 Maret 2014

Menuai Nikmatnya Sholat Duha

Jangan bosan dengan tema tentang keajaiban sholat duha. Karena faktanya sudah banyak yang merasakan manfaat dan keajaiban sholat duha jika dilaksanakan secara istiqomah.
Tulisan ini sekedar menambahi saja tentang manfaat dan keajaiban sholat duha yang pernah seseorang alami. Tulisan sejenis bisa didapatkan dengan searching saja kata kunci sholat duha di google, sekali lagi tulisan ini hanya menambahi saja, syukur-syukur ada yang tergerak untuk menjalankan sholat duha setelah membaca tulisan ini.
Ceritanya seseorang bernama Iam. Iam adalah seorang remaja anak seorang guru. Dia baru saja ingin memulai kehidupan barunya dengan lebih mendekatkan diri ke Allah, setelah selama ini terjerumus dalam kebimbangan dan nikmatnya dunia yang fana.
Tekad memperbaiki diri dimulai dengan mengkuti berbagai kegiatan taklim. Dalam salah satu taklim yang dia ikuti, dia menerima pelajaran tentang keajaiban sholat duha. Masih dalam taklim tersebut, karena dia datangnya telat, dia duduk disekitar parkiran, tepatnya duduk lesehan didepan salah satu motor varian baru yang sedang diparkir.
Bersamaan dengan mendengarkan taklim yang disampaikan pembicara, Iam terus saja memandangi motor varian baru yang nongkrong didepannya. Lama memandang, kemudian dia merasa amat sangat tertarik dengan motor tersebut. Dimatanya motor tersebut terlihat unik, menarik, keren, trendi dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Tersirat dibenaknya untuk memilikinya. Namun entah bagaimana caranya, gaji orang tuanya sebagai guru sedang banyak dihabiskan oleh dirinya dan kedua adiknya yang masih sekolah.
Merasa tidak mungkin memiliknya atau meminta dibelikan sama orang tuanya, Iam hanya membatin saja, kalau suatu saat nanti sudah bsa cari uang sendiri, dia ingin punya motor seperti itu. Perasaan ketertarikan itu terus dipupuknya berhari-hari setelah taklim tersebut, meskipun dia sadar akan sulit memilikinya.
Bukan hanya ketertarikan akan motor saja yang didapatnya dari taklim, Iam juga mendapatkan pelajaran tentang sholat duha beserta manfaat-manfaatnya. Karena sudah berkomitmen untuk memperbaiki kehidupan religiusnya, Iam langsung mempraktekan ilmu tentang sholat duha yang baru diperolehnya.
Setiap hari sebelum berangkat sekolah, Iam selalu sempatkan untuk sholat duha 2 kali 2 rakaat. Jika tidak sempat sebelum berangkat, Iam lakukan sholat duha disekolah disela-sela jam istirahat.
Seminggu sudah sejak taklim tentang sholat duha dan ketertarikannya akan sepeda motor varian baru. Keduanya masih diistiqomahi. Istiqomah sholat duha juga istiqomah memimpikan motor varian baru.
Tepat hari setelah satu minggu itu, orang tua dapat rejeki. Orang tua dapat arisan sebesar uang yang bisa dibelikan untuk motor varian baru tersebut. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tapi Iam tetap tidak berani mengatakan ingin motor varian baru. Karena Iam merasa orang tuanya masih banyak keperluan yang perlu dibeli.
Ternyata tanpa disangka dan tanpa diminta, orang tua Iam membeli motor varian baru tersebut. Sungguh bahagia perasaan Iam. Dia tidak pernah meminta, bahkan berdoa kepada Allah pun tidak, karena Iam merasa jauh sekali untuk bisa membeli motor apalagi motor yang varian baru. Iam hanya membatin saja kalau dia pengin punya motor varian baru tersebut.

Ini cerita fakta dan nyata. Subhanallah! Betapa dahsyatnya keajaiban sholat duha jika dijalankan secara istiqomah. Tanpa seseorang itu memohon meminta langsung ke Allah, hanya dengan membatin saja, keinginanya bisa terpenuhi. Mari, mumpung masih diwaktu duha, sempatkan sejenak, matikan gedget sebentar saja, ambil air wudhu, dan kerjakanlah sholat duha. Wallahu A’lam Bishshowab. (Amin)

Selasa, 18 Maret 2014

Aku Sudah Move On


Dicoretanku kali ini, aku mau ngomongin tentang move on. Move on dari apa? Tentu move on dari masa lalu yang tidak mengenakan. Ambil contoh masal lalu yang tidak mengenakan yaitu mantan.
Yang namanya mantan, meski banyak kenangan indah, tapi tetaplah mantan yang harus ditinggalkan. Mantan adalah masa lalu yang tak mungkin kembali, kecuali terjadi CLBK di masa depan.
Bicara tentang move on, akhir-akhir ini aku agak risih dengan lebel yang disematkan padaku bahwa aku gagal move on. Label itu tersemat gara-gara aku masih sering cerita mengenai pengalaman-pengalaman yang dulu bersama mantan yang aku share di sosial media.
Aku tidak memungkiri kalau move on dari mantan memang tidak bisa dibilang mudah kalau tidak mau dikatakan tidak mungkin. Ketika 2 orang memadu kasih, tentu banyak hal-hal indah yang pernah berdua lakukan bersama. Hal-hal indah itulah yang bikin beratnya move on.
Bagiku, move on bukan berati melupakan semua tentang mantan, kenangan indah bersama mantan tak akan mungkin mudah dilupakan. Move on bagiku berarti mengambil hikmah dari kegagalan hubungan dengan mantan untuk membuat hubungan yang baru lebih baik lagi suatu saat nanti ketika kembali merajut kasih. Move on juga berarti tidak mengulangi kesalahan yang dulu dilakukan bersama mantan dihubungan yang baru nantinya.
Lalu kenapa aku seolah tidak rela dengan masih seringnya aku membahas tentang mantan? Begitu tanya temenku. Ketika aku menuliskan sesuatu tentang mantan, itu bukan berarti aku belum move on dan masih mengharapkan hubungan kami kembali seperti dulu. Aku hanya ingin berbagi kepada semua bahwa suatu hubungan ada kalanya terjadi sesuatu yang tidak mengenakan, harapannya itu bisa dijadikan pelajaran bagi mereka yang sedang merajut tali asmara.
Ada teman lain bilang, “move on lah, cari orang lain!” tapi bagiku, move on tidak harus dengan mencari pelampiasan atau pelarian kepada orang lain. Seseorang tidak bisa dikatakan move on hanya karena seseorang itu telah merajut hubungan dengan pasangan yang baru, bisa saja orang tersebut menjalin hubungan baru justru karena seseorang itu belum bisa melupakan mantannya atau dengan kata lain belum bisa move on. Jadi pasangan baru hanya digunakan untuk mengalihkan pikirannya dari mantannya, dan menurutku itu tidak baik.
Bagiku, hubungan harus didasari adanya rasa tulus dari keduanya, bukan karena terpaksa guna untuk melupakan orang lain. Ketika menjalin hubungan atas dasar untuk melupakan mantan, itu berarti orang tersebut buat luka baru dan problem baru. Ketika suatu saat pasangan pelampiasanmu tahu hanya dijadikan pelampiasan, maka dia pasti bakal kecewa, marah, emosi bahkan sedih dan itu bikin problem baru di hidup kita.
Jadi, kalau emang aku belum kembali menjalin hubungan dengan orang lain, itu bukan berarti aku belum move on. Dari pada move on dengan menjalin hubungan baru hanya sebagai pelampiasan melupakan mantan, lebih baik aku menikmati kesendirian ini dulu dengan kembali menjalin persahabatan yang lebih erat dengan teman-teman yang dulu sempat terpinggirkan gara-gara waktuku yang terlalu banyak dihabiskan bareng mantan.
Keep move on bareng teman-teman! Jangan pada heran kalo-kalo tiba-tiba aku ngakrabi kalian yaks,  Cheerfull (*^^*)

Senin, 03 Maret 2014

Biasakan Dengarkan Yang Baik-Baik

Teringat penelitian seorang Doktor kontroversial dari Jepang bernama Dr. Emoto yang membukukan penelitiannya dengan judul “The Hidden Massages in Water”. Inti dari buku tersebut yaitu salah satunya mengenai air yang partikelnya bisa berubah ketika diberi suatu reaksi dari sekelilingnya, misal dengan musik. Ketika didengarkan musik yang baik, partikel air akan baik, sebaliknya ketika diperdengarkan bunyi-bunyi yang tidak baik, partikel air akan berubah menjadi tidak baik pula.
Jadi jika bisa diibaratkan manusia itu seperti air, karena Hampir 65 % tubuh manusia terdiri dari zat cair. Nah jadi ketika diperdengarkan suatu yang baik-baik, maka akan berpengaruh terhadap manusia tersebut menjadi baik, begitu juga sebaliknya.
Kebetulan, beberapa tahun belakangan sedang lumayan tenar lagu milik sebuah band lokal bernama Republik Band berjudul Sandiwara Cinta. Berkali-kali lagu itu diputar di radio hampir setiap hari dan disetiap acara.
Saya, meskipun tidak terlalu suka lagu-lagu Indonesia yang baru-barupun terpaksa ikut mendengar karena di waktu sedang ada suatu kerjaan, biasanya saya sering ditemani dengan radio.
Karena sangking seringnya dan berulang setiap harinya, secara tidak sadar saya hafal lagu sandiwara cinta tersebut. Setelah hafal, kadang saya coba renungi isi lagu tersebut, yang kurang lebih isi lagunya yaitu mengenai seorang pria yang sudah mengetahui pacarnya memiliki kekasih lain, si pria tersebut mengiklaskan kekasihnya tersebut berhubungan dengan selingkuhannya dan rela melepas si wanita ini berhubungan dengan selingkuhannya demi kesenangan si wanita ini sesakit apapun rasanya.
Mungkin terkesan lebay dan cengeng lagunya, tapi entah hanya kebetulan, atau karena apa, lagu itu berdampak dikehidupan nyata saya. Kehidupan nyata saya seolah tersugesti oleh lagu tersebut. Saya merasakan persis sesuai dengan isi lagu tersebut.
Sedih, marah, kecewa, dendam semua campur aduk jadi satu. Seseorang yang selama ini selalu ada disaat suka dan duka, seseorang yang selama ini menjadi tempat berbagi keluh kesah, seseorang yang suatu saat nanti sudah sangat saya idam-idamkan menjadi ibu dari anak-anak saya, dia pergi.
Tidak hanya pergi meninggalkan saya, melainkan justru pergi dengan orang lain yang selama ini sering dia ceritakan sebagai teman biasanya. Dan saya seketika seperti menjadi tokoh pria dalam lagu sandiwara cinta.
Luar biasa, lagu yang sehari-hari saya dengar sampai hafal secara tidak sadar sekarang terjadi dalam kehidupan saya. Apa mungkin sesuatu yang sering kita dengar setiap harinya benar-benar mensugesti diri kita dan akan membentuk kehidupan nyata kita?
Jadi perdengarkanlah sesuatu yang baik-baik saja yang sifatnya positif. Jangan keseringan dengar sesuatu yang sedih-sedih, galau-galau, dan yang lainnya, karena bisa jadi itu mensugesti ke kehidupan nyata. (Amin)

Bertemu Titik Jenuh, Bersyukurlah

Belum genap satu tahun saya memasuki babak baru dalam kehidupan saya. Setelah kurang lebih 4 tahun bergelut dengan dunia perkuliahan yang mengasyikan dan penuh dengan warna, ini saatnya saya memasuki gerbang dunia karir.
Alhamdulillah tidak perlu waktu yang lama, saya diterima di sebuah pekerjaan. Dan sekarang sudah memulai rutinitas pekerjaan kurang lebih sekitar 3 minggu.
Baru sekitar 3 minggu, kebosanan mulai datang. Rutinitas berangkat pagi pulang sore, serta sehari-hari hanya berhadapan dengan orang-orang yang sama membuat saya kadang berpikir untuk mundur dan mencari sesuatu yang sekiranya bisa membebaskan raga ini tapi tetap bisa menghasilkan rupiah.
Setiap waktu pulang juga yang ada hanya keluh kesah, lesu, capek. Rasanya hidup monoton sekali, padahal itu baru 3 minggu, ga kebayang bagaimana rasanya harus seperti ini kurang lebih 2 tahun sesuai dengan kontrak, bisa-bisa stress jiwa ini.
Ga kebayang pula bagaimana mereka para pekerja yang sudah bertahun-tahun lamanya bekerja di kantoran dan yang dihadapi hanya itu-itu saja. Baru saya tahu alasan kenapa beberapa tahun kemarin ada acara TV bertajuk bosan jadi pegawai, ya ternyata memang membosankan jadi pegawai.
Satu waktu sedang senggang, saya buka media sosial dan bertemu teman lama disana. Lama tidak jumpa, biasa kita awali dengan basa basi disana. Panjang lebar kami ngobrol, ternyata dia lagi banyak masalah. Keputusannya menikah muda dan punya anak sementara pekerjaan belum mapan, membuatnya hampir stress.
Berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya tapi tetap saja itu hasilnya pas-pasan. Untuk sekedar menabung bila suatu saat nanti ada kebutuhan mendesak pun tak sempat. Namun, dia masih bersyukur karena selalu ada saja pekerjaan yang didapatnya sehingga anak istrinya masih bisa makan layak tiap harinya.
Namun sekarang, anaknya yang masih balita sedang sakit, dia sangat butuh bantuan, tapi dengan catatan dia hanya ingin dipinjami, dia tidak mau meminta-minta.
Mendengar keluh kesah teman lama, saya jadi merasa malu. Malu karena dengan keadaan saya sekarang, dengan karir yang saya dapatkan sekarang, dengan pendapatan yang jauh lebih dari cukup sekarang, yang saya lakukan tiap hari hanya berkeluh kesah. Saya lupa bersyukur atas segala pemberian rejeki ini. Dengan apa yang saya dapat sekarang, harusnya saya lebih banyak bersyukur.
Dengan bersyukur ini saya mulai kembali bisa menikmati setiap rutinitas kerja. Masih banyak orang yang tidak seberuntung saya. Ketika jenuh dan kebosanan kembali melanda, saya sempatkan datang ke tempat-tempat seperti panti asuhan, rumah sakit, daerah-daerah perkampungan tertinggal, untuk melihat betapa diluaran sana masih banyak orang yang tidak seberuntung kita. Jadi apapun itu, banyak-banyaklah bersyukur, karena dengan rasa syukur kita akan selalu menikamti setiap pekerjaan yang kita lakukan. (Amin)