Rabu, 29 April 2015

ASAL NAMA DESA KANDANGWANGI

Umpak yang Konon Dulu Diatasnya Berdiri Kandang (Gubug) Berbau Harum
Desa Kandangwangi berlokasi di Kecamatan Wanadadi Kabupaten Banjarnegara. Konon pada masa kerajaan mataram di perintah oleh Sultan Amangkurat II, wilayah kerajaan ini sangat luas, seluruh daratan Jawa Tengah dan Jawa Timur dan meliputi hampir sebagian besar kepulauan nusantara.
Di daerah banyumas khususnya di bagian timur ada dua kadipaten yang berbatasan dengan sungai serayu. Sebelah selatan sungai serayu terdapat Kadipaten Tonjong yang saat itu di perintah oleh seorang adipati muda bernama Adipati Surya Kusuma yang masih berstatus jejaka.
Sedangkan di sebelah utara sungai serayu membentang Kadipaten Cengkalsewu yang pada masa itu di perintah oleh Adipati Sabuk Mimang yang sudah mempunyai seorang permaisuri dan memiliki seorang ptri yang cantik jelita bernama Putri Mayangsari.
Pada saat itu terdapat sebuah padepokan yang bernama Padepokan Lumbir yang di pimpin oleh Panembahan Lumbir yang terkenal sakti dan memiliki banyak murid,letak padepokan ini kira-kira berada di Lumbir (sekarang wilayah Tapen) yang pada saat itu masuk dalam wilayah kadipaten cengkalsewu.
Sedangkan Panembahan Lumbir adalah guru dari Adipati Tonjong, dan sebagai murid yang bergelar adipati, maka Adipati Tonjong menjadi murid kesayangan beliau, perhatian Sang Panembahan Lumbir kepada Adipati Tonjong semakin besar setelah beliau mengetahui bahwa Adipati Tonjong mencintai putri tunggalnya,kemudian peminanganpun di langsungkan dan putri Panembahan Lumbir menjadi permaisuri Adipati Tonjong.
Setelah perkawinan dilaksanakan, ternyata Adipati Cengkalsewu yang sudah beranak istri diam-diam menaruh hati pada istri Adipati Tonjong, maka Adipati Cengkalsewu mencari dalih agar bisa merebut istri Sang Adipati Tonjong.
Pada waktu Sultan Amangkurat II mengadakan sidang paripurna yang dihadiri oleh seluruh Mentri, Adipati, dan Manggalayuda,pada saat itu Adipati Tonjong tidak bisa hadir dan mengutus Patih Wirapati sebagai wakilnya. Begitupun dengan Adipati Cengkalsewu yang juga tidak hadir dan mengutus Patih Sabuk Galeng sebagai wakilnya.
Dalam Pasewakan Agung tersebut alangkah terkejutnya Sultan Amangkurat II ketika Sabuk Galeng melaporkan berita bahwa sebenarnya Adipati Tonjong tidak bisa hadir dalam rapat karena Adipati Tonjong ingin memberontak. Sultan Amangkurat II yang sangat murka setelah mendengar berita tersebut langsung menitahkan pasukan Mataram untuk menumpas Kadipaten Tonjong,Patih Wirapati yang mendengar titah baginda tersebut langsung pergi tanpa izin menuju Kadipaten Tonjong dan melaporkanya pada Adipati Tonjong.

Senin, 20 April 2015

SURGA TERSEMBUNYI DI GIRITIRTA PEJAWARAN

Curug Genting
Berbicara mengenai wisata di Banjarnegara, kebanyakan orang akan menyebutkan Dieng, atau mungkin beberapa lagi menyebutkan Serulingmas atau Selomanik. Kedua obyek wisata tersebut memang sudah banyak dikenal orang, hampir disetiap musim libur, kedua destinasi tersebut selalu diserbu warga masyarakat untuk sekedar melepaskan penat rutinitas yang kadang menjemukan. Bahkan terkhusus untuk Dieng, destinasi ini konon sudah sangat terkenal se-Indonesia Raya dengan eksotisisme keragaman budaya, keindahan alam, dan sejarah peradaban yang terdapat disana.
Namun ternyata Banjanegara tidak hanya memiliki itu. Dengan bentangan alam yang mayoritas berupa pegunungan, Banjarnegara memiliki banyak destinasi wisata alam yang sungguh mempesona dan belum banyak diketahui orang. Salah satunya yaitu yang berada di Desa Giritirta, Kecamatan Pejawaran.
Di desa yang berlokasi kurang lebih 35 km ke arah utara dari pusat kota Banjarnegara ini, bahkan tidak hanya terdapat satu destinasi saja, melainkan tiga sekaligus. Dalam satu lokasi yang terpisah tidak terlalu berjauhan, wisatawan bisa menikmati 3 pesona sekaligus, yaitu ada 2 curug atau air terjun, serta 1 sumber air panas.

Selasa, 14 April 2015

SI BUNGSU, NYAI SEKATI


Cungkup Makam Nyai Sekati
Menurut cerita yang beredar di masyarakat Banjarnegara, tiga dari empat putra dari Kanjeng Sunan Giri Gajah konon merupakan penyebar agama islam di Banjarnegara. Dari ketiganya tersebut, baru makam Sunan Giri Wasiyat dan Sunan Gripit yang sudah terdata dan sudah banyak diketahui masyarakat. Satu yang belum terdata dan bahkan hampir tidak ada orang yang tahu adalah makam Nyai Sekati.
Nyi Sekati merupakan bungsu dari Sunan Giri Gajah. Sebagai bungsu, beliau mengikuti kedua kakaknya pergi ke arah barat untuk menyebarkan agama islam. Dan sampailah mereka di wilayah yang sekarang bernama Banjarnegara.
Seperti halnya kedua kakaknya, Nyai Sekati juga merupakan orang yang sakti. Dari salah satu sumber buku bertuliskan aksara Jawa, diceritakan kalau Nyai Sekati ini dalam setahun hanya makan 3 kali, itu pun jumlahnya sangat sedikit, sekali makan porsinya hanya semampunya yang diambil oleh tangan atau orang Jawa biasa menyebutnya “saemplokan”.

Rabu, 08 April 2015

Festival Serayu Akan Kembali Digelar

Maskot Festival Serayu 2015
Setelah sukses diselenggarakan pada 2013 yang lalu , tahun ini, untuk kedua kalinya, perhelatan akbar Festival Serayu Banjarnegara akan kembali digelar. Mengusung tema “Merawat Serayu, Merawat Peradaban”, Festival Serayu tahun ini rencananya akan dilaksanakan pada 26-30 Agustus 2015.
Seperti pada tahun 2013 lalu, Festival Serayu tahun ini juga akan menampilkan kesemarakan berbagai mata event yang diharapkan mampu mengundang wisatawan untuk datang ke Banjarnegara. Beberapa kegiatan utama yang tahun sebelumnya mampu menyedot antusiasme masyarakat, akan kembali digelar seperti Serayu Expo. Seperti tahun lalu, Serayu Expo akan menggelar pameran gelar produksi usaha mikro kecil menengah, produk pertanian, perikanan, serta peternakan milik masyarakat Banjarnegara. Serayu Expo ini akan digelar pada 26-29 Agustus 2015.
Pesta Parak Iwak juga akan kembali digelar tepatnya pada 30 Agustus 2015. Pesta parak iwak merupakan pengejawantahan kesadaran masyarakat di sekitar sungai serayu, khususnya masyarakat Banjarnegara yang telah merasakan betapa besarnya peran sungai serayu sebagai nadi hidup dan berkembangnya cipta, rasa, dan karsa masyarakat Banjarnegara dalam kemajuan baik secara ekonomi, social, dan budaya. Perwujudan dari kesadaran masyarakat Banjarnegara ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME untuk merawat dan melestarikan sungai serayu.