Senin, 05 Oktober 2015

SEJARAH ADIPATI MANGUNYUDO SEDOLOJI

Makam Sedoloji Sebelum Dipugar
Adipati Magunyudo Sedo Loji adalah anak dari R. Banyakwide serta cucu dari R. Tumenggung Mertoyudan (Bupati Banyumas IV). Pada masa pemerintahan Yudonegoro I, R. Banyakwide diangkat sebagai Kliwon (Patih) di Kadipaten Banyumas, meskipun diangkat sebagai Kliwon di kadipaten Banyumas, R. Banyakwide tetap berdomisili di Banjar Petambakan hingga akhirnya beliau diangkat menjadi Adipati Banjar Petambakan.
Sepeninggal R Banyakwide, tampuk kepemimpinan Kadipaten Banjar Petambakan digantikan oleh R. Mangunyudo, disinilah awal mula pemberontakan-pemberontakan Adipati Mangunyudo I terhadap penjajahan Kolonial Hindia Belanda.
Salah satu peristiwa paling besar yang melibatkan Adipati Mangunyuda adalah peristiwa Geger Pecinan. Geger Pacinan adalah tragedi pemberontakan Bangsa Tionghoa kepada VOC Hindia Belanda. Ketika terjadi geger Pacinan di Kartosuro itu, mataram Kartosuro dipimpin oleh Paku Buwono II. Sementara Kadipaten Banjar Petambakan waktu itu dibawah pimpinan R Ngabehi Mangunyudo yang bergelar Hadipati Mangunyudo I. Kala itu,  R Ngabehi Mangunyudo mendapatkan perintah dari Paku Buwono II untuk membantu menghancurkan loji (Benteng) VOC di Kartosuro tapi dengan satu syarat agar ia tidak membunuh pasangan suami isteri orang Belanda yang berada di Loji paling atas.

Makam Sedoloji Setelah Dipugar
Akhirnya perang sengitpun terjadi antara prajurit Mangunyudo I dengan pasukan VOC (tahun 1743). Melihat prajuritnya banyak yang tewas, Adipati Mangunyudo I murka, ia merasa sangat marah, seluruh penghuni loji dibunuhnya, sampai-sampai ia lupa pesan Sri Susuhunan Paku Buwono II. Melihat masih ada orang Belanda yang masih hidup di bagian paling atas loji, R. Mangunyudo mengejarnya dan berusaha membunuh pasangan suami isteri orang Belanda, yang sebenarnya adalah Pakubuwono II dan Permaisuri yang sedang menyamar. Merasa terancam jiwanya, Pakubuwono II akhirnya membunuh Adipati Mangunyudo I yang sedang kalap di loji VOC dengan gada. Dari peristiwa itulah maka kemudian Adipati Mangunyudo I dikenal dengan sebutan Adipati Mangunyudo Sedo Loji.
Sepeninggal Adipati Mangunyudo I kepemimpinan Kadipaten Banjar Petambakan digantikan oleh putranya yang bergelar Hadipati Mangunyudo II. Dalam sumber sejarah disebutkan bahwa yang menggantikan Mangunyudo I adalah R. Ngabehi Kenthol Kertoyudo. Dalam perang Diponegoro lebih dikenal dengan Mangunyudo Mukti. Pada masa pemerintahannya, Kadipaten dipindahkan ke sebelah Barat Sungai Merawu dan kemudian dinamakan Kabupaten "Banjar Watulembu".
Nama Mangunyudo dan Kadipaten Banjar Watulembu berakhir setelah usai perang Diponegoro 1830 pada masa kepemimpinan Adipati Mangunyudo IV. Sikap Kadipaten Banjar Watulembu yang sangat anti terhadap Kolonialisme Belanda, bahkan turut memperkuat pasukan Diponegoro dalam perang melawan Belanda, mengakibatkan Kadipaten Banjar Watulembu dihapus oleh VOC Hindia Belanda, dan pada saat itu pula status Kadipaten Banjar Watulembu diturunkan menjadi Distrik dengan dua penguasa yaitu R. Ngabei Mangun Broto dan R. Ngabei Ranudirejo.
Salah satu saksi bisu keberadaan Mangunyuda Sedoloji ini yaitu sebuah makam yang terdapat di Desa Petambakan Kecamatan Madukara. Konon, disitulah Mangunyuda Sedoloji dimakamkan setelah meninggal pada tragedi Geger Pacinan. Pada tahun 2014 lalu, makam ini telah dipugar, sehingga sekarang terlihat rapi dan bersih.
Selain makam, saksi bisu perjuangan Mangunyuda Sedoloji lainnya adalah sebuah pakaian terakhir yang beliau pakai ketika berperang melawan VOC Hindia belanda. Pakaian ini secara turun temurun disimpan sebagai kenang-kenangan dan benda pusaka di slah satu rumah warga di Desa Banjarkulon Kecamatan Banjarmangu. Bekas pakaian Mangunyuda Sedoloji ini sekarang tersimpan rapi didalam sebuah peti dengan sebuah pintu kaca,

Kondisi pakaiannya sendiri sudah kusam dan berwarna putih,tetapi sayangnya sudah tidak utuh lagi, bahkan ada sebagian yang seperti bekas terbakar. Menurutnya, dari cerita-cerita yang sudah turun temurun, terbakarnya sebagian pakaian tersebut itu terjadi sudah puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu yaitu ketika pakaian tersebut masih disimpan oleh salah seorang keturunannya. Pada saat itu terjadi kebakaran dirumah tempat penyimpanan pakaian tersebut, namun anehnya ketika seluruh rumah sudah hangus terbakar, bekas pakaian Adipati Mangunyudo Sedo Loji yang konon disimpan didalam tiga besek (wadah dari anyaman bambu) itu hanya satu yang ikut terbakar yaitu sebuah ikat kepala dan kain, sementara dua wadah lainnya yang dipakai buat menyimpan baju serta celana sama sekali tidak terbakar. (Amin)

0 komentar: