Jumat, 13 Maret 2015

MAKAM BOGEM SALAMERTA

Cungkup Makam Bogem
Makam Bogem merupakan makam Dewi Nawangsasi ada juga yang menyebutnya Dewi Nawangwulan. Dewi Nawangsasi adalah anak dari Ki Ageng Giring yang makamnya ada di desa Gumelem Wetan kecamatan Susukan. Dewi Nawangsasi merupakan mantan istri dari penguasa Kerajaan Mataram Islam yang diusir oleh rajanya, Sutawijaya (bergelar Panembahan Senopati) yang kemudian berputra Jaka Umbaran.
Ketika Jaka Umbaran beranjak dewasa, dia diutus oleh Ki Ageng Giring untuk pergi menemui ayahandanya di ibu kota Mataram dan mengabarkan kepada mereka bahwa Ki Ageng Giring dan Dewi Nawangsasi telah meninggal.
Waktu terus berlalu, usiapun kian bertambah. Sementara hati nurani seorang ibu yang ditinggal anaknya pergi menjadikan rasa kangen yang tidak bisa terbendung lagi. Tapi untuk datang ke Ibu Kota Kerajaan Mataram dipikirnya sungguh nista, apalagi Sutawijaya telah mengetahui kalau Dewi Nawangsasi dan Ki Ageng Giring sudah mati. Sehingga sangat tidak mungkin kalau dirinya harus datang ke Kerajaan Mataram.
Dipendamlah rasa rindu kepada anak semata wayang yang tentunya kala itu sudah beranjak dewasa. Hingga akhirnya suatu hari Dewi Nawangsasi berpamitan kepada ayahnya untuk bertapa menyepi di dalam hutan. Ki Ageng Giring pun mengizinkan karena sejatinya diapun mengetahui perasaan anaknya.
Dewi Nawangsasi terus berjalan ke arah timur dengan hanya berbekal sekotak kinang yang komplit dan merupakan kesukaannya. Dia tidak bisa lepas dari kotak kinang yang oleh orang dulu disebut Bogem. Kotak itu selalu dibawa kemanapun dia pergi, termasuk pada hari itu. Dengan mengenakan baju kebaya berwarna hijua gadung (hijua pupus pohon pisang) dan dibalut kain kebaya bermotif lurik, wanita ini terus berjalan menyusuri hutan lebat. Tanpa terasa, perjalanan telah memasuki hutan jati yang sangat lebat. Dengan kesaktian yang dimiliki dari hasil bimbingan ayahandanya, maka Dewi Nawangsasi masuk ke dalam sebuah pohon jati untuk bertapa hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

Makam Dewi Nawangsasi
Singkat cerita, puluhan tahun sudah Dewi Nawangsasi bersemedi di dalam sebatang pohon jati. Hingga akhirnya ada seorang pencari madu lebah hutan yang sedang mencari madu bernama Kaki Salim. Karena kelelahan, maka pria itu beristirahat dengan bersandar di pohon jati, yang konon cerita, besar lingkaran pohon tersebut mencapai satu setengah meter.
Terik matahari kala itu sangat menyengat dan udara pun cukup membuat orang kegerahan. Namun secara tiba-tiba cuaca ketika itu berubah menjadi awan mendung dengan diiringi semilir angin yang kian lama kian membesar. Kejadian aneh itu membuat pria pencari madu tertegun dan bingung. Saat pria itu masih tertegun dengan fenomena alam yang berubah secara drastis, tiba-tiba dia dikagetkan dengan adanya sesosok perempuan tua yang keluar dari dalam pohon di mana dirinya sedang bersandar.
Perempuan tua itu mengenakan baju kebaya berwarna hijau gadung serta berbalut kain batik bermotif lurik, dengan rambut yang sudah memutih. Di tangan kanannya memegang kotak kayu yang sudah cukup usang, yang ternyata berisi seperangkat kinang.
Setelah Dewi Nawangsasi memperkenalkan dirinya kepada pria pencari madu, akhirnya Dewi Nawangsasi diajak untuk tinggal bersama keluarganya di Desa Salamerta dipinggiran hutan. Karena kemanapun Dewi Nawangsasi pergi selalu tidak pernah lepas dari kotak kayu berisi perlengkapan menginang yang oleh orang dulu dinamakan Bogem, sehingga Dewi Nawangsasi dikenal oleh warga desa waktu itu dengan panggilan Nyai Bogem.

Semenjak tinggal di desa terebut, Dewi Nawangsasi dengan kekuatannya selalu melindungi serta mengingatkan warga Desa Salamerta jika akan ada bahaya yang mengancam. Selain itu, dengan kesaktiannya juga memberikan barokah kepada saluruh warga dengan hasil panen padi yang melimpah. Sehingga seluruh warga Desa Salamerta hidup damai dan tentram.
Pada suatu hari Dewi Nawangsasi jatuh sakit. Uniknya, dia memahami jika sudah waktunya untuk berpulang kepada Sang Maha Kuwasa. Sehingga Dewi Nawangsasi berpamitan dan meninggalkan pesan agar kelak ketika dirinya meninggal agar dimakamkan di dekat pohon Nagasari dimana dia bertemu pertama kali dengan Kaki Salim.
Setelah menyampaikan pesan tersebut, akhirnya Dewi Nawangsasi menghembuskan napasnya yang terakhir. Kemudian oleh warga desa dimakamkan sesuai permintaan terakhirnya. Kemudian makam tempat dimakamkannya Dewi Nawangsasi dinamakan Makam Bogem.
Tangga Naik Menuju Makam
Makam Bogem lokasinya ada di Desa Salamerta Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara. Setiap malam Senin legi dan Kamis legi ramai di kunjungi orang yang hendak ziarah. Di jelaskan Mbah Sumowihadi yang merupakan juru kunci makam, dalam berziarah, mereka juga melakukan lelaku untuk mencari rezeki dan memohon agar usaha yang dirintisnya sukses. Juga ada yang meminta pengasihan agar disayang majikan atau disayang keluarga dan pasangnya.
Adapun persyaratan yang harus dipersiapkan untuk lelaku ritual di makam Nyai Bogem ini, tidaklah terlalu rumit, karena segala ubo rampe yang disyaratkan selalu ada di pasar tradisional. Seperti kembang tujuh rupa, kemenyan arab, bedak yang di dalamya jua terdapat kaca cermin, gincu atau lipstik, minyak wangi duyung dan pisang raja serta sisir serit. Ubo rampe lainnya yaitu seperangkat kinang yang terdiri dari sejemput tembakau, satu buah kembang kanthil, dan beberapa daun sirih, gambir, jambe, serta sedikit enjet. Semua itu dimasukkan ke dalam satu wadah contong yang terbuat dari daun pisang dan dikait dengan lidi.
Tidak cuma ubo rampe sebagai syarat, Tetapi ada juga pantangannya. Kalau datang ke makam Nyai Bogem dilarang memakai baju berwarna hijau, terlebih hijau pupus dan juga mengenakan kain batik bermotif lurik. Ini sangat tidak disenangi Nyai Bogem atau Dewi Nawangsasi, karena telah menyamai baju dan kain yang dipakai Dewi Nawangsasi. Jika hal itu dilanggar maka akan ada halangannya. (Amin)

0 komentar: