Selasa, 22 Oktober 2013

Jomblo, Tak Perlu Risau

Jomblo. Sebuah keadaan dimana banyak remaja sekarang tidak ingin mengalaminya. Jomblo atau tidak punya psangan seolah menjadi pencap seseorang itu jelek, tidak gaul, tidak laku, dan cap-cap keji lainnya. Dari itulah muncul pandangan dari remaja sekarang bahwa pacran itu seolah harus dan wajib hukumnya.
Kebanyakan remaja masa kini meyakini dan telah menjadikan pacaran sebagai metode utama—bahkan satu-satunya metode—di dalam menemukan calon pasangan untuk berlanjut ke jenjang pernikahan. Mereka menduga bahwa pacaran akan memberikan mereka kesempatan yang baik untuk mengenal dengan lebih baik kebiasaan-kebiasaan dan karakter-karakter satu sama lain sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Ibaratnya kalau tidak pacaran berarti seseorang itu tidak laku dan susah jodohnya.
Padahal kalau kita cermati, ada satu riset yang mengatakan cinta romantis yang biasanya terjadi pada pasangan yang berpacaran sebelum menikah akan berkurang setelah pasangan tersebut menikah. Nah lho?!
Dalam satu hubungan antar lawan jenis, pengalaman baru dalam menjalin cinta menimbulkan semangat dalam cinta romantis. Jikalau hal-hal baru ini sudah tidak ada, maka cinta romantis akan berkurang. Dan akhirnya muncul kebosanan.
Dari satu riset diatas sebenarnya bisa ditarik kesimpulan bahwa terbukti pacaran hanya akan mengurangi kepuasan menikah pada saat pasangan tersebut menjalani kehidupan besama. Hal-hal baru yang sangat penting dalam menumbuhkan cinta romantis sudah tidak keluar lagi, semua sudah dikeluarkan saat masa pacaran, dan ketika menikah yang ada hanya sisa-sisa keromantisan yang akhirnya menjurus kepada kebosanan.
Lebih jauh lagi, ada beberapa studi yang dilakukan menyimpulkan bahwa sebuah pernikahan yang didahului melalui proses pacaran lebih memiliki kemungkinan besar berakhir dengan perceraian rasio peningkatan resiko perceraiannya meningkat sebesar 46%.
Satu uraian singkat dari Sydney Harris menyimpulkan bahwa satu alasan utama mengapa banyak pernikahan lewat proses pacaran yang gagal adalah fungsi yang disediakan oleh pacar dan jodoh (suami atau istri) berbeda secara fundamental. Pacar biasanya dipilih karena faktor fisik menarik sementara jodoh dipilih karena secara psikologis mampu bertanggung jawab, namun sayangnya, kebanyakan individu-individu yang menarik seringkali tidak cukup bertanggung jawab, sedangkan kebanyakan individu-individu yang bertanggung jawab seringkali secara fisik kurang menarik.
So, jadi jomblo tak perlu risau. Marilah khususnya para generasi muda merubah mindset kita, bahwa jomblo tidaklah lebih hina dari seseorang yang sudah berpacaran, tapi percayalah bahwa jomblo adalah pilihan yang tepat dan terbaik. Beneran deh rugi, kalo waktumu banyak dihabisin sama orang yang belum tentu bakal jadi pendamping hidupmu selamanya, lebih baik waktumu banyak dihabisin buat Dia yg sudah pasti slalu ada bersamamu yaitu Allah. (Amin)

inspirasi

1 komentar:

college of computer mengatakan...

This article will help the internet people for setting up new weblog or even a weblog from start
to end.
Qassim & QU